Analisis El Clasico Final: Kunci Taktik Barcelona Juara Piala Super Spanyol 2026

Rabu 14-01-2026,10:36 WIB
Reporter : Muhammad Zibi Alifiqri, S. Pd
Editor : Muhammad Zibi Alifiqri, S. Pd

Keberhasilan Barcelona tak lepas dari keunggulan taktik yang diterapkan Hansi Flick. Barcelona tampil dengan formasi dasar 4-2-3-1, dengan struktur yang fleksibel saat menyerang maupun bertahan.

Saat menyerang, Barcelona menempatkan Alejandro Balde naik tinggi di sisi kiri, sementara Raphinha bergerak ke half-space. Di sisi kanan, Lamine Yamal menjaga lebar permainan. Pedri dan Frenkie de Jong menjadi motor utama di lini tengah, mendukung pergerakan Fermin Lopez yang aktif mencari ruang .

Sebaliknya, Real Madrid memulai laga dengan formasi 4-4-2. Namun saat bertahan, struktur mereka berubah menjadi 5-3-2. Federico Valverde ditugaskan melakukan trackback untuk membantu lini belakang dan menutup pergerakan Balde.

BACA JUGA:Mengenal Istilah Boxing Day di Premier League: Makna, Tradisi dan Dampaknya

Ruang di Sisi Eric Garcia Jadi Celah Madrid

Keputusan Real Madrid membentuk struktur 5-3-2 justru menghadirkan masalah tersendiri. Saat Valverde turun terlalu dalam, ruang di sektor kanan pertahanan Madrid kerap terbuka. Situasi ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Barcelona, terutama melalui pergerakan Eric Garcia.

Eric Garcia berkali-kali mendapatkan ruang tanpa tekanan untuk melakukan progresi bola ke depan. Dari area inilah Barcelona membangun serangan dan menciptakan peluang berbahaya. Pergerakan dinamis Pedri, Frenkie de Jong, dan Fermin Lopez turut menarik perhatian lini tengah Madrid, sehingga semakin banyak ruang tercipta di belakang mereka.

BACA JUGA:Mengenal John Herdman, Kandidat Kuat Pelatih Baru Timnas Indonesia

Lini Tengah Barcelona Lebih Dinamis

Salah satu faktor penentu kemenangan Barcelona adalah dominasi di lini tengah. Pedri tampil cerdas dalam membaca ruang, sementara Frenkie de Jong lebih proaktif membuka jalur umpan dibandingkan laga-laga sebelumnya.

Pergerakan tanpa bola para gelandang Barcelona membuat lini tengah Real Madrid kesulitan menjaga struktur. Tiga gelandang Madrid kerap tertarik keluar dari posisinya, menciptakan celah yang dimanfaatkan Barcelona untuk menusuk pertahanan lawan.

Situasi ini terlihat jelas pada proses gol-gol Barcelona, di mana serangan kerap berawal dari lini kedua dan memecah blok pertahanan Madrid.

BACA JUGA:Tekanan di Puncak: Kesiapan Skuad Amorim Jelang North West Derby di Anfield

Real Madrid Berbahaya, Namun Kurang Solid

Meski kalah, Real Madrid tetap menunjukkan kualitas serangan. Gol Vinicius Junior menjadi bukti betapa berbahayanya mereka melalui aksi individual. Selain itu, Madrid juga mengancam melalui situasi bola mati.

Namun secara keseluruhan, Madrid melakukan terlalu banyak kesalahan struktural, terutama di lini tengah dan transisi bertahan. Kurangnya agresivitas dalam menutup ruang membuat Barcelona leluasa mengembangkan permainan.

Kategori :