Program Bedah Rumah Pontianak 2026, 217 Rumah dan 135 WC Diperbaiki
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono foto bersama seluruh penerima manfaat bantuan stimulan perbaikan rumah tak layak huni dan perbaikan WC-Kominfo/Prokopim Pontianak-dokumen istimewa
PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Papan-papan kayu yang mulai lapuk itu masih berdiri. Di sebuah gang di Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, Hasan menjalani hari-harinya di rumah sederhana yang ia bangun seadanya. Dinding depan dan belakang masih dari papan. Lantai kayu terasa rapuh. Atap seng yang ia sebut “sengkas” kerap berbunyi saat hujan turun.
Rumah itu sudah ia tempati lebih dari lima tahun. Kondisinya makin lama makin menurun. Ia sendiri menyebut rumahnya “dagan”, istilah yang biasa digunakan warga untuk menggambarkan bangunan yang sudah tidak layak.
Di rumah itu, Hasan membesarkan empat anak. Tiga di antaranya telah berkeluarga, sementara satu anak perempuan masih tinggal bersamanya. Kini, ia juga hidup bersama menantu dan anggota keluarga lainnya dalam ruang yang terbatas.
BACA JUGA:Program Bedah Rumah Pontianak 2026, 217 Rumah dan 135 WC Diperbaiki
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Hasan berjualan es, air tebu, dan kelapa. Penghasilannya tidak menentu. Ia menyebut, dalam sehari kadang hanya cukup untuk kebutuhan makan setengah hari. Kondisi itu membuatnya sulit menyisihkan uang untuk memperbaiki rumah.
Saat mendapatkan bantuan bedah rumah dari Pemerintah Kota Pontianak, ia langsung memanfaatkan bantuan tersebut sebaik mungkin.
“Kalau dapat bantuan, kita kerjakan yang benar, supaya bermanfaat untuk keluarga,” katanya usai menerima simbolis bantuan di Aula Kantor Terpadu Pemkot Pontianak Jalan Letjen Sutoyo pada Senin, 20 April 2026.
BACA JUGA:Pramuka Pontianak Perkuat Pembinaan Generasi Muda Berkualitas
Bagi Hasan, bantuan ini bukan berarti semua selesai begitu saja. Ia tetap harus terlibat langsung. Bersama keluarga, ia ikut mengerjakan perbaikan rumahnya sedikit demi sedikit. Bahkan selama proses berlangsung, mereka tetap tinggal di rumah tersebut.
“Ya, kami tinggal di situ. Anak beranak semua gotong royong,” ujarnya.
Ia juga menyadari bahwa bantuan yang diberikan memiliki keterbatasan. Jika ada kekurangan biaya, ia berusaha menambah sendiri, meski kondisi ekonomi tidak selalu memungkinkan.
BACA JUGA:Viral Keluhan Pasien IGD Menunggu Lama, Manajemen RSUD SSMA Pontianak Buka Suara
“Kalau ada kekurangan, ya kita tambah sendiri. Tapi keadaan hidup sekarang kan pas-pasan,” ungkapnya.
Sumber: kominfo/prokopim pontianak


