Fenomena berburu takjil bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga berdampak pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat Pontianak. Pasar juadah menyediakan ruang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memasarkan produk kuliner mereka langsung kepada konsumen.
Aktivitas ini mendorong perputaran ekonomi lokal, memberi peluang pendapatan tambahan menjelang Idulfitri, sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga melalui interaksi di ruang publik sore hari.
Aktivitas serupa juga dirasakan di komunitas seperti kantin juadah di masjid-masjid sekitar kota, di mana remaja masjid turut berperan aktif menjual takjil sambil mempererat kebersamaan dan membangun semangat berwirausaha sejak dini.
BACA JUGA:Safari Ramadan 1447H Perdana, Wali Kota Pontianak Ajak Warga Hijrah Menuju Lebih Baik
Tradisi Berkembang dan Dinamis
Fenomena ini juga bukan hanya terbatas di Pontianak. Di berbagai daerah di Indonesia, tradisi berburu takjil telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan. Di Depok misalnya, pusat kuliner di Jalan Margonda Raya ramai oleh pemburu takjil setiap sore Ramadan, menunjukkan bahwa tren ini merupakan bagian dari budaya populer luas di Indonesia.
Takjil sendiri bermula sebagai istilah makanan yang disegerakan untuk berbuka puasa sesuai tradisi Islam, yang kemudian berkembang menjadi momen sosial budaya yang dinantikan setiap tahunnya.