Sidang Isbat Ramadhan 2026: BMKG Terjunkan Tim Amati Hilal di 37 Lokasi

Senin 16-02-2026,11:50 WIB
Reporter : Muhammad Zibi Alifiqri, S. Pd
Editor : Muhammad Zibi Alifiqri, S. Pd

PONTIANAKINFO.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan melaksanakan pengamatan hilal pada 17–18 Februari 2026 guna mendukung Kementerian Agama Republik Indonesia (Kementerian Agama) dalam menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Pengamatan merupakan bagian penting dalam proses penentuan resmi 1 Ramadhan yang akan diputuskan melalui sidang isbat.

Melalui siaran pers yang dilansir akun Instagram resmi @infobmkg, BMKG menyampaikan akan menerjunkan tim dan peralatan terbaik di 37 titik pengamatan hilal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Titik-titik tersebut dipilih secara strategis untuk memastikan pengamatan dilakukan secara optimal dengan mempertimbangkan faktor astronomis dan kondisi geografis.

BACA JUGA:Sidang Isbat Ramadhan 2026: BMKG Terjunkan Tim Amati Hilal di 37 Lokasi

Hasil pengamatan hilal dari seluruh lokasi nantinya akan dihimpun dan diserahkan kepada Kemenag sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Februari 2026. Data ini akan melengkapi informasi hisab atau perhitungan astronomi yang telah disiapkan sebelumnya.

Pelaksana Tugas Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, A. Fachri Rajab, menjelaskan bahwa seluruh hasil pengamatan hilal akan dikompilasi secara nasional. Menurutnya, sinergi data observasi dan hisab sangat penting untuk memberikan gambaran ilmiah yang komprehensif dalam penentuan awal bulan Hijriah.

BACA JUGA:Apa Itu Hilal? Berikut Penjelasan dan Perannya

BMKG juga memastikan proses pengamatan dilakukan dengan dukungan peralatan optik dan instrumen yang memadai, seperti teleskop khusus pengamatan hilal, serta melibatkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang astronomi dan meteorologi. Setiap titik pengamatan akan memantau visibilitas hilal berdasarkan parameter astronomis, sekaligus memperhatikan kondisi cuaca setempat yang dapat memengaruhi hasil pengamatan.

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida, menegaskan bahwa data hisab hilal telah disiapkan sebagai acuan teknis bagi para pengamat di seluruh Indonesia. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan potensi keterlihatan hilal pada waktu pengamatan yang telah ditetapkan.

BACA JUGA:Aktivitas Ibadah Umat Muslim Kalbar Selama Ramadhan

Dengan keterlibatan di 37 titik pengamatan, BMKG menegaskan komitmennya memberikan dukungan ilmiah dan teknis secara optimal agar penentuan awal Ramadhan 1447 H berlangsung akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kolaborasi erat antara BMKG dan Kemenag yang dilakukan ini dengan harapan mampu memberikan kepastian bagi masyarakat dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Kategori :