Setelah unggul dua gol, justru masalah muncul bagi Manchester United. Casemiro ditarik keluar dan digantikan oleh Manuel Ugarte. Di atas kertas, Ugarte diharapkan bisa menjaga keseimbangan lini tengah, namun ia justru gagal menjalankan fungsi tersebut.
Ugarte beberapa kali gagal memotong progresi serangan Fulham. Akibatnya, Fulham menemukan celah besar di area tengah dan mampu melewati dua gelandang sentral MU dengan mudah.
Situasi ini berujung pada penalti untuk Fulham yang menghasilkan gol pertama mereka. Tak lama berselang, Fulham kembali mencetak gol kedua lewat tendangan jarak jauh karena MU terlalu longgar dalam menutup ruang tembak lawan. Dari unggul nyaman, MU mendadak berada dalam situasi genting.
Gol Ketiga MU Kembali ke Template Lama
Manchester United akhirnya memastikan kemenangan lewat gol ketiga yang lahir dari pola serangan yang sama sejak awal pertandingan.
Lisandro Martinez mengirim bola ke Amad Diallo di sisi kanan. Overload kembali muncul ketika Diallo dan Bruno Fernandes menghadapi fullback kiri Fulham.
Diallo berhasil menarik fullback keluar, membuka celah besar di half-space. Bruno membaca ruang tersebut dengan sempurna, menerima umpan, lalu mengirim bola ke Sesko yang tinggal menyelesaikan dengan satu sentuhan.
Gol ini menjadi penentu kemenangan MU 3-2 dan menunjukkan efektivitas struktur serangan Carrick.
BACA JUGA:Mengenal Istilah Boxing Day di Premier League: Makna, Tradisi dan Dampaknya
MU Menang Berkat Struktur dan Konsistensi
Kemenangan Manchester United atas Fulham menjadi bukti bahwa Carrick mulai membawa identitas taktik yang jelas.
Gol-gol MU lahir dari struktur 3-2-5 yang konsisten, overload di sisi sayap, serta manipulasi posisi lawan melalui pergerakan Cunha dan Bruno Fernandes.
Namun, laga ini juga menjadi catatan bahwa MU masih perlu menjaga kontrol lini tengah ketika melakukan pergantian pemain, karena kehilangan keseimbangan bisa membuat mereka rentan.