Peringati Hari Pendengaran Sedunia, RSUD SSMA Pontianak Edukasi Kesehatan Telinga Anak
Ilustrasi seorang anak ketika mengalami gangguan pendengaran--Pinterest
PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Masalah kesehatan indera pendengaran menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya penggunaan gawai dan kurangnya pemahaman masyarakat terkait kebersihan telinga. Menanggapi hal tersebut, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak menggelar sosialisasi edukasi kesehatan telinga dan pendengaran pada Senin, 16 Maret 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama orang tua dan pendidik, mengenai pentingnya menjaga pendengaran anak-anak sebagai modal utama dalam proses belajar dan berkomunikasi. Mengingat pendengaran adalah jendela informasi bagi perkembangan kognitif anak, RSUD SSMA merasa perlu mengambil langkah preventif melalui edukasi komunitas.
BACA JUGA:Peringati Hari Pendengaran Sedunia, RSUD SSMA Pontianak Edukasi Kesehatan Telinga Anak
Komunitas Peduli Kesehatan Telinga
Dalam peringatan tersebut, dr. Eva Nurfarihah, Sp.THT-KL, M.Kes selaku Dokter Spesialis THT RSUD SSMA menekankan bahwa peran komunitas sangat krusial. Ia memaparkan pentingnya sinergi antara lingkungan sekolah dan keluarga.
"Jadi, kegiatan hari ini adalah dalam rangka Hari Pendengaran Sedunia yang dicanangkan oleh WHO setiap tahun setiap tanggal 3 Maret, dan Rumah Sakit Sultan Syarif Alkadrie baru bisa melaksanakannya pada hari ini. Tema tahun ini adalah kesehatan dari komunitas terhadap anak-anak. Maksudnya adalah komunitas di sini bisa komunitas sekolah atau guru terhadap anak muridnya, atau orang tua terhadap anak-anak di rumahnya maupun anak-anak di lingkungan sekitarnya," ujar Eva Nurfarihah kepada Pontianak Disway.
Mengapa Harus Peduli?
Data menunjukkan adanya tren peningkatan gangguan pendengaran dari tahun ke tahun. Hal ini cukup memprihatinkan karena banyak kasus yang sebenarnya dapat dicegah jika orang tua memiliki pengetahuan yang cukup. Eva menjelaskan bahwa kotoran telinga sering kali menjadi pemicu utama yang tidak disadari.
"Kita harus peduli karena dari tahun ke tahun gangguan pendengaran ternyata makin banyak, terutama pada anak-anak, padahal gangguan tersebut sebetulnya bisa sekali dicegah. Penyebab yang paling banyak adalah kotoran telinga yang menumpuk. Sebenarnya kotoran telinga tidak perlu dibersihkan secara manual karena dengan mengunyah dengan betul, berbicara, menelan, dan proses mengobrol, kotoran akan terdorong sedikit demi sedikit. Saat tidur, rambut dalam telinga akan menyapu kotoran tersebut keluar," jelasnya.
BACA JUGA:Penderita Diabetes Ingin Puasa Aman? Ini Tips RSUD SSMA Pontianak Cegah Komplikasi Selama Ramadan
Bahaya Infeksi dan Paparan Bising Gawai
Selain masalah kotoran, infeksi telinga atau Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) yang lazim disebut congean, masih menjadi momok bagi kesehatan telinga anak. Infeksi ini biasanya berawal dari penyakit ringan yang dianggap remeh, seperti batuk dan pilek.
"Penyebab kedua adalah infeksi atau yang paling banyak dikenal sebagai congean (OMSK). Hal ini sering disebabkan oleh batuk pilek yang tidak diobati dengan betul, sehingga bakteri atau virus menyebar ke telinga lewat tuba dan menyebabkan gendang telinga infeksi. Penyebab ketiga adalah paparan bising, seperti penggunaan earphone atau headset dari handphone serta bermain game dengan suara keras yang bisa merusak saraf pendengaran," tambah Eva.
BACA JUGA:RSUD SSMA Pontianak Ungkap Penyebab Gusi Berdarah dan 4 Cara Mengatasinya
Rumus 60-60 untuk Penggunaan Earphone
Guna meminimalisir risiko kerusakan saraf pendengaran akibat kebisingan, dr. Eva membagikan tips praktis yang dikenal dengan Rumus 60-60. Aturan ini sangat penting diterapkan bagi anak muda dan pelajar yang sering menggunakan perangkat audio dalam waktu lama.
"Untuk mencegah gangguan akibat bising, ada rumus 60-60, yaitu dalam sehari hanya boleh mendengarkan maksimal 60 menit dengan volume maksimal 60 persen dari volume yang ada. Kita harus curiga jika anak mendengarkan TV atau handphone dengan volume sangat keras hingga terdengar dari ruangan lain. Jika ada tanda-tanda gangguan, harus segera dibawa ke dokter THT," tegasnya.
BACA JUGA:RSUD SSMA Pontianak Edukasi Masyarakat soal Nyeri Dada dan Risiko Penyakit Jantung
Deteksi Dini di Sekolah dan Rumah
Bagi anak usia sekolah, gangguan pendengaran bisa berdampak pada penurunan nilai akademis karena mereka kesulitan menangkap instruksi guru. Sedangkan pada balita, tanda yang paling terlihat adalah keterlambatan bicara (speech delay). Eva mengingatkan bahwa sebelum melakukan terapi bicara, orang tua harus memastikan fungsi pendengaran anak berfungsi dengan baik.
"Pada anak sekolah, guru perlu waspada jika anak tampak tidak mengerti saat dijelaskan, karena mungkin ada penurunan pendengaran. Sedangkan pada balita, gangguan pendengaran seringkali baru disadari saat anak belum bisa berbicara, karena anak belajar bicara dari apa yang dia dengar. Jika ada gangguan bicara, harus dipastikan dulu tidak ada gangguan pendengaran sebelum memberikan terapi selanjutnya. Pendengaran ini sama seperti mata; jika kurang jelas melihat kita pakai kacamata, maka jika gangguan dengar bisa menggunakan alat bantu dengar. Jadi tahun ini kita mengajak untuk peduli terhadap anak-anak di lingkungan kita," tutupnya.
Sumber:


