Kualitas kopi merupakan pertemuan antara varietas, tanah, ketinggian, iklim, ketekunan manusia, dan konsistensi dalam merawat tanaman. Alam menyediakan potensinya, tetapi manusia menentukan bagaimana potensi itu dikelola.
Biosite Bondowoso, Harmoni Negara dengan Rakyatnya
Kawasan yang dikenal sebagai Biosite Kopi Bondowoso mencakup perkebunan negara dan perkebunan rakyat di Kecamatan Ijen dan Sumberwringin. Kawasan Pegunungan Ijen-Raung menjadi salah satu sentra penting kopi Arabika Jawa Timur. Perkebunan ini berada pada ketinggian sekitar 1.100–1.550 meter di atas permukaan laut, dengan karakter tanah vulkanik yang kaya unsur hara. Udara pegunungan, iklim, ketinggian, dan praktik budidaya yang berlangsung lintas generasi membentuk karakter kopi yang khas.
Kopi Arabika dari kawasan ini dikenal memiliki keasaman yang menonjol, aroma intens, ukuran sedang, serta sentuhan rasa manis menyerupai cokelat. Karakter tersebut memperkuat identitas Java Coffee sebagai kopi spesialti yang memiliki daya saing di pasar internasional. Kopi Arabika Bondowoso juga telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis sebagai pengakuan atas kekhasan produk yang lahir dari wilayah tersebut.
Namun, kekuatan kopi Ijen tidak berhenti pada cita rasa. Di antara tanaman kopi terdapat berbagai tanaman penaung seperti suren, dadap, kayu manis, pinus, dan kayu putih. Vegetasi tersebut membantu menjaga suhu dan kelembapan kawasan sekaligus menjadi bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan berbagai jenis fauna, burung, dan serangga penyerbuk. Kebun kopi pada akhirnya bukan hanya ruang produksi. Ia adalah ruang ekologis yang hidup.
Karena itu, produktivitas dan keberlanjutan tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua kepentingan yang berseberangan. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Semakin baik ekosistem dijaga, semakin besar peluang perkebunan untuk bertahan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Bagi PTPN I sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group), Kebun Ijen karena itu merupakan aset dengan nilai ekonomi, sosial, dan ekologis sekaligus. Perkebunan menghasilkan komoditas, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi masyarakat, menjaga lingkungan, sekaligus memelihara pengetahuan yang telah berkembang selama lebih dari satu abad.
Tantangan Pengelola
Kopi Ijen memiliki ruang pengembangan yang masih luas. Penguatan kualitas produksi, hilirisasi, pengembangan wisata agro, edukasi kopi, penguatan merek, dan perluasan akses pasar dapat menjadi jalan untuk meningkatkan nilai tambah.
Hilirisasi membuat nilai kopi tidak berhenti ketika biji keluar dari kebun. Kopi dapat tumbuh menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus menjadi bagian dari pengalaman dan identitas kawasan.
Wisata agro juga dapat membuka cara baru untuk mengenalkan perkebunan. Orang tidak hanya datang menikmati udara sejuk dan pemandangan lereng Ijen, tetapi dapat memahami bagaimana kopi ditanam, dirawat, dipanen, diolah, hingga akhirnya hadir dalam secangkir minuman.
Sementara edukasi menjadi jembatan untuk memastikan pengetahuan perkebunan tidak terputus. Sebab, warisan terbaik dari sebuah perkebunan bukan hanya tanaman yang diwariskan, tetapi juga pengetahuan tentang bagaimana merawatnya.
Di sana ada manusia yang bekerja, keluarga yang menggantungkan kehidupan, masyarakat yang bergerak bersama roda ekonomi perkebunan, pengetahuan yang diwariskan, alam yang dijaga, dan sejarah yang terus berjalan.
Di lereng Ijen, sejarah tidak hanya tersimpan pada bangunan tua, lantai kayu, jalan perkebunan, atau hamparan tanaman kopi. Sejarah itu masih bekerja. Masih menghidupi. Dan masih memberi harapan.
Setiap biji kopi yang dipetik dari lereng Ijen membawa lebih dari sekadar cita rasa. Ia membawa cerita tentang alam, manusia, kerja keras, dan warisan panjang yang terus dijaga agar tetap bernilai bagi masa depan.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.