Tahun 1890-an, Gerhard David Birnie, seorang pengusaha asal Belanda membangun kebun kopi arabika di Lereng Gunung Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. Beberapa literatur menyebut pengusaha yang datang sebagai bagian dari misi ekonomi Pemerintahan Hindia Belanda itu juga mengembangkan tanaman tembakau. Dua komoditas yang dikelola perusahaan Belanda yang kemudian dinasionalisasi pascakemerdekaan itu kini dikelola PTPN I sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group).
Jejak sejarah dari perkebunan kopi ini menjadi cikal bakal budaya masyarakat lokal yang sangat kuat. Bisa dibayangkan, pada akhir abad 18, di belantara lereng gunung dengan ketinggian sekira 1.500 meter dari permukaan laut, infrastruktur jalan yang entar masih seperti apa, para pengusaha asal Negeri Wilhelmina itu sudah menembus tempat itu.
Ia dan tim membawa budaya dan komoditas baru, yakni kopi arabika yang kemudian menjadi ikon rasa kopi khas Bondowoso hingga sekarang. Diyakini, ia menjalankan misi dengan peta dan identifikasi dari penguasa saat itu, yakni pemerintahan Hindia Belanda sebagai induk persekutuannya.
Sejarah telah membuktikan betapa identifikasi dan visi bisnis yang dijalankan para pengusaha Belanda itu sangat visioner. Bukan sekadar bisnis, aspek kelestarian lingkungan yang berkelanjutan juga bisa dirasakan hingga saat ini. Mereka menanam tanaman keras di lereng-lereng curam, mempertahankan hutan-hutan sebagai cathment area, dan membangun ladang tembakau di area datar. Semua berada di area ketinggian dengan suhu sejuk hampir sepanjang tahun.
Aspek kecocokan pertumbuhan jenis komoditas tambaknya menjadi pertimbangan utama untuk menghasilkan kualitas terbaik. Padahal, untuk mendapatkan tenaga kerja di wilayah yang –saat itu— jauh dari jangkauan kebanyakan orang, akan menjadi masalah krusial. Namun, strategis yang digunakan adalah dengan berinvestasi sangat besar di wilayah satelit yang kemudian menarik minat pekerja untuk ikut mendapatkan keberuntungan ekonomi.
Strategi itu terbukti berhasil. Melalui berbagai gimmick mercusuar, pekerja dengan mudah didatangkan dari berbagai wilayah di seputaran wilayah yang telah ramai. Antara lain, dari Bondowoso, Banyuwangi, Jember, hingga Malang. Mereka bekerja dan bertempat tinggal sehingga membentuk komunitas khas hingga bisa kita saksikan kultur baru di Kawasan Ijen saat ini.
Pada November tahun lalu, penulis sempat mengunjungi kawasan ini, lebih khusus di Komplek Kebun dan Pabrik kopi Ijen. Kunjungan itu kemudian bukan sekadar melihat hamparan tanaman kopi, tetapi menemukan jejak sejarah, kehidupan pekerja, denyut ekonomi masyarakat, dan hubungan manusia dengan alam yang terpelihara di lereng Pegunungan Ijen.
Dari beberapa bangunan di Jampit Guest House yang saat ini dikelola PTPN I Regional 5, kita bisa menyaksikan jejak sejarah yang sudah mapan dari zaman sebelum Indonesia Merdeka. Bangunan yang didirikan pada 1927 itu masih menyimpan kuat jejak masa lalu. Lantai kayu dan arsitektur klasik peninggalan Belanda menghadirkan suasana yang berbeda. Ada kesan bahwa bangunan tersebut bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan bagian dari sejarah perkebunan yang masih hidup hingga hari ini.
Di lereng Pegunungan Ijen, kopi bukan sekadar tanaman. Ia adalah sejarah, pengetahuan, pekerjaan, lingkungan, dan sumber penghidupan masyarakat. Jejak Gerhard David Birnie membuka perkebunan Blawan, yang kala itu dikenal sebagai Mount Blau berlanjut dengan pembukaan perkebunan Kalisat/Jampit pada 1927.
Dari kawasan inilah kopi Ijen berkembang menjadi komoditas yang dikenal hingga pasar Eropa. Waktu berganti, pemerintahan berubah, dan perusahaan-perusahaan perkebunan asing dinasionalisasi. Pengelolaan perkebunan kemudian beralih kepada negara dan menjadi bagian dari perjalanan panjang perkebunan negara hingga kini berada dalam ekosistem PT Perkebunan Nusantara I (Persero) sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group).
Sejarah itu terasa berbeda ketika dilihat langsung dari tengah perkebunan. Di atas kertas, sejarah mungkin hanya berupa tahun dan nama. Namun, di Ijen, sejarah hadir dalam bangunan tua, jalan perkebunan, tanaman kopi, dan kehidupan orang-orang yang setiap hari bekerja di dalamnya. Di sinilah makna perkebunan negara menjadi lebih luas dari sekadar angka produksi.
Kebun Ijen bukan hanya tempat menanam dan memanen kopi. Ia merupakan ruang ekonomi yang mempertemukan pekerja, masyarakat sekitar, pelaku usaha, pengolah hasil, hingga mata rantai distribusi. Dari pemeliharaan tanaman, pemanenan, pengolahan hingga distribusi, perkebunan menciptakan aktivitas ekonomi yang terus bergerak.
Ada pekerja yang menggantungkan pendapatan dari kebun. Ada keluarga yang kehidupannya tumbuh bersama musim kopi. Ada pula pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, keberadaan perkebunan tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak kopi yang dihasilkan. Di balik setiap produksi terdapat nilai sosial yang jauh lebih Panjang, yakni kesempatan kerja, perputaran ekonomi masyarakat, serta pengetahuan yang terus dipelihara.
PTPN I, sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group), melalui Kebun Ijen memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kopi Arabika. Pemeliharaan tanaman, pengaturan tanaman penaung, pemanenan hingga penanganan pascapanen merupakan rangkaian pengetahuan yang menentukan kualitas akhir kopi.