PONTIANAKINFO.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan awal pekan dengan pelemahan. Pada Senin, 9 Maret 2026, mata uang Garuda terdepresiasi seiring menguatnya dolar AS di pasar global yang dipicu meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,47% ke posisi Rp16.980 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya pada Jumat, 6 Maret 2026 yang berada di level Rp16.900 per dolar AS, atau melemah 0,15% pada akhir pekan lalu.
BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Sentimen Geopolitik Tekan Mata Uang RI
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini juga tercermin dalam grafik pergerakan intraday yang menunjukkan tren kenaikan nilai dolar AS terhadap rupiah sejak awal sesi perdagangan. Pada grafik tersebut terlihat bahwa nilai tukar sempat bergerak di kisaran Rp16.200–Rp16.800 sebelum akhirnya menembus level Rp16.900 hingga mencapai Rp16.980 per dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini. Tren ini menandakan tekanan yang cukup kuat terhadap mata uang domestik.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY). Hingga pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS tercatat naik 0,68% ke level 99,655. Penguatan indeks dolar menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap mata uang tersebut di pasar global.
BACA JUGA:Perang AS–Israel Vs Iran: Kronologi Serangan dan Dampak Global
Sentimen eksternal menjadi faktor utama yang membebani rupiah. Salah satu pemicu utama adalah lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus level US$100 per barel. Kenaikan harga energi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Kondisi tersebut membuat investor global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, seperti dolar AS. Ketika permintaan terhadap dolar meningkat, mata uang negara berkembang termasuk rupiah biasanya mengalami tekanan.
BACA JUGA:Jadwal Lengkap Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026
Selain itu, pasar juga tengah menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Seiring meningkatnya risiko inflasi akibat kenaikan harga energi, pelaku pasar mulai memperkirakan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), kemungkinan akan menunda rencana pemangkasan suku bunga.
Situasi geopolitik di Timur Tengah juga menambah ketidakpastian global. Iran diketahui menunjuk Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sebagai penerus kepemimpinan tertinggi di negara tersebut. Langkah ini dinilai memperkuat posisi kelompok garis keras di tengah konflik yang masih berlangsung dengan AS dan Israel.
BACA JUGA:Kalbar Peringkat 7 Nasional, Ria Norsan dan Krisantus Kurniawan Sukses Dorong Ekonomi Daerah
Di tengah situasi tersebut, aktivitas pelayaran energi juga terdampak. Sejumlah kapal tanker dilaporkan masih menghindari jalur strategis Selat Hormuz karena meningkatnya risiko keamanan. Jika kondisi ini berlanjut, pasar energi global berpotensi menghadapi periode harga minyak tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Dengan berbagai tekanan eksternal tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika ketegangan geopolitik dan penguatan dolar AS terus berlanjut.