Rupiah Tertekan ke Rp16.970 per Dolar AS, Apa Penyebabnya?
Mata uang Indonesia dan AS--Pinterest
PONTIANAKINFO.COM - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini pada Senin, 30 Maret 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut seiring penguatan dolar AS di pasar global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan pagi di level Rp16.970 per dolar AS atau melemah sebesar 0,06%. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya, di mana rupiah ditutup turun 0,38% ke posisi Rp16.960 per dolar AS pada Jumat, 27 Maret 2026.
BACA JUGA:Rupiah Tertekan ke Rp16.970 per Dolar AS, Apa Penyebabnya?
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis. Pada pukul 09.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tersebut berada di level 100,194 atau naik sekitar 0,04%.
Penguatan dolar AS ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah. Ketika dolar menguat, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung mengalami tekanan karena investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Sentimen Geopolitik Tekan Mata Uang RI
Analis pasar menilai, pergerakan rupiah pada awal pekan ini masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Salah satunya adalah kembali menguatnya indeks dolar AS yang kini berhasil menembus level psikologis 100.
Kenaikan indeks dolar menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Hal ini membuat tekanan terhadap mata uang lain semakin besar, terutama di tengah kondisi global yang belum stabil.
BACA JUGA:Inflasi, Krisis Ekonomi, dan Dampaknya terhadap Nilai Tukar
Selain itu, faktor geopolitik juga turut memengaruhi pasar. Kekhawatiran terhadap konflik di kawasan Teluk yang berpotensi berkepanjangan telah mendorong harga minyak dunia melonjak tajam. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terkait inflasi global dan risiko perlambatan ekonomi.
Pasar juga mencermati pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut kemungkinan negaranya mengambil alih Kharg Island di Teluk Persia, salah satu jalur utama ekspor minyak Iran. Meski demikian, ia juga membuka peluang tercapainya gencatan senjata dalam konflik tersebut.
BACA JUGA:Peran Lembaga Rating dalam Stabilitas Pasar Keuangan Global
Ketidakpastian geopolitik ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati. Lonjakan harga energi akibat konflik juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global, yang pada akhirnya memengaruhi kebijakan moneter berbagai negara.
Sumber:


