Selain itu, barang hantaran yang dibawa dalam arak-arakan memiliki makna filosofis. Misalnya, sirih, pinang, bunga rampai, serta berbagai perlengkapan rumah tangga menandakan harapan agar kehidupan kedua mempelai dipenuhi kesejahteraan, keharmonisan, dan kesuburan. Pantun yang dibacakan kedua keluarga juga mencerminkan cara masyarakat Melayu menyampaikan pesan moral serta ucapan selamat secara indah dan beretika.
BACA JUGA:Aktivitas Nelayan Sungai Kapuas Pontianak dan Tantangan Ekonomi di Lapangan
Tantangan Pelestarian Tradisi
Di tengah modernisasi dan globalisasi, pelestarian tradisi pernikahan adat Melayu menghadapi tantangan seperti perubahan gaya hidup, pengaruh budaya luar, serta meningkatnya biaya pernikahan. Namun, upaya pemerintah kota, lembaga budaya, serta komunitas terus digalakkan melalui festival budaya, dokumentasi tradisi, dan sosialisasi kepada generasi muda agar tradisi ini tetap hidup dan relevan di era sekarang.