Ekonomi DIY Tumbuh 5,75 Persen, Dahlan Iskan Berbagi Tips Hadapi Perubahan Bisnis
Dahlan Iskan saat memberikan materi di acara temu responden Bank Indonesia Yogyakarta--dokumen istimewa
PONTIANAKINFO.COM, YOGYAKARTA - Dahlan Iskan mengingatkan pelaku usaha agar tidak terpaku pada cara lama dalam menjalankan bisnis di tengah perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta kemampuan membaca kebutuhan pasar menjadi bagian penting agar perusahaan tetap relevan dan mampu bersaing.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Temu Responden Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026 yang digelar di Yogyakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026. Dahlan Iskan sendiri hadir sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman sekaligus berdiskusi dengan para pelaku usaha yang menjadi responden BI.
Kegiatan bertema “Stay Relevant, Stay Resilient: Strategi Bertumbuh di Era Perubahan” tersebut menjadi forum untuk membahas tantangan dunia usaha, mulai dari perubahan teknologi hingga penyesuaian strategi menghadapi persaingan.
BACA JUGA:Ekonomi DIY Tumbuh 5,75 Persen, Dahlan Iskan Berbagi Tips Hadapi Perubahan Bisnis

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Darmadi Sudibyo saat memberikan sambutan dalam acara Temu Responden 2026--dokumen istimewa
Kepala Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo mengatakan pengalaman Dahlan Iskan dalam membangun dan mengembangkan berbagai usaha diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi peserta.
"Pengalaman Pak Dahlan membangun, mengembangkan, dan memimpin berbagai usaha, termasuk membawa industri media melewati berbagai fase perubahan, tentu bisa menjadi pembelajaran yang berharga bagi peserta," harap Sudibyo.
BACA JUGA:Hadir di Acara BI Sulut, Dahlan Iskan Dorong Pengusaha Lokal Fokus Tingkatkan Kapasitas Produksi
Dahlan Iskan Ajak Pengusaha Berani Berubah
Dalam sesi diskusi, Dahlan Iskan lebih banyak mendengarkan persoalan yang dihadapi para pengusaha. Pembahasan mencakup pemanfaatan AI untuk menunjang kinerja perusahaan serta perubahan pendekatan dalam menjalankan bisnis.
Tiga pelaku usaha kerajinan tangan yang berorientasi ekspor turut diajak naik ke panggung. Mereka adalah Johni Sahlan dari Tashinda, Deddy Effendy dari Palem Craft, dan Riris Simanjuntak dari Indo Risakti.
Dari diskusi tersebut, Dahlan menilai masih ada pelaku usaha yang bertahan dengan pola pikir lama. Salah satunya adalah pemisahan tegas antara pasar grosir dan eceran serta anggapan bahwa kegiatan ekspor hanya ditujukan kepada perusahaan importir di negara tujuan.
“Padahal dengan kondisi seperti sekarang, jangan lagi terpaku pada cara lama,” pesannya.
Sumber:


