Analisis Taktik Girona vs Barcelona: High Defensive Line Hansi Flick Jadi Bumerang di Montilivi
Girona vs Barcelona dalam lanjutan laga La Liga pada Selasa, 17 Februari dini hari WIB-gironafc-Instagram
PONTIANAKINFO.COM - Barcelona harus menelan pil pahit pada pekan ke-24 Liga Spanyol 2025/2026 usai kalah 1-2 dari Girona. Duel Girona vs Barcelona yang digelar di Stadion Montilivi pada Selasa, 17 Februari 2026 dini hari WIB, menjadi malam yang mengecewakan bagi tim asuhan Hansi Flick.
Kekalahan ini bukan hanya soal tiga poin yang hilang. Hasil tersebut membuat Barcelona harus rela kehilangan posisi puncak klasemen Liga Spanyol dan menyerahkannya kepada rival abadi mereka, Real Madrid. Kini Blaugrana tertinggal dua poin dari Los Blancos dalam perburuan gelar musim ini.
BACA JUGA:Analisis Taktik Girona vs Barcelona: High Defensive Line Hansi Flick Jadi Bumerang di Montilivi
Strategi High Defensive Line Jadi Sorotan
Dalam laga ini, Hansi Flick tetap konsisten dengan pendekatan garis pertahanan tinggi (high defensive line). Barcelona tampil dengan pola dasar 4-3-3 yang dapat bertransformasi menjadi 4-2-3-1 saat membangun serangan.
Saat fase build-up, Barca membentuk struktur tiga pemain di belakang dengan dukungan fullback yang naik membantu serangan. Pola menyerang mereka bahkan membentuk struktur 3-2-5 ketika menguasai bola.
Secara teori, sistem ini memberi dominasi penguasaan bola dan kontrol wilayah. Namun, dalam praktiknya di Montilivi, strategi tersebut justru menjadi bumerang. Girona tampil agresif dan disiplin, memanfaatkan celah di lini tengah serta ruang kosong di belakang garis pertahanan tinggi Barcelona.
BACA JUGA:Terobosan Baru J-League 2026: Hapus Imbang, Pembagian Poin Dirombak
Sektor Tengah Keropos, Girona Unggul Jumlah Pemain
Salah satu masalah utama Barcelona terlihat di sektor tengah. Frenkie de Jong, Fermin Lopez, dan Dani Olmo kerap gagal memberikan tekanan optimal saat Girona membangun serangan.
Akibatnya, Girona mampu mengeliminasi lini pertama dan kedua pertahanan Barca dengan relatif mudah. Dalam beberapa momen transisi, Girona bahkan menciptakan situasi superioritas jumlah pemain 8 melawan 4 saat menyerang.
Kondisi ini membuat organisasi pertahanan Barcelona terlihat kacau. Bek-bek seperti Pau Cubarsi dan Eric Garcia dipaksa menghadapi gelombang serangan tanpa perlindungan yang cukup dari lini tengah. Struktur “rest defense” Barca tidak berjalan ideal, sehingga ruang di belakang lini tinggi mereka terus terekspos.
Sumber: tommy desky


