Pesan artikel

Edukasi Mengenal Virus Nipah oleh RSUD SSMA: Ancaman Zoonosis dan Langkah Pencegahan Dini

Edukasi Mengenal Virus Nipah oleh RSUD SSMA: Ancaman Zoonosis dan Langkah Pencegahan Dini

dr. Gita Risti Novianti (Dokter Umum RSUD SSMA) saat melakukan eduksi tentang Virus Nipah.-Dok. Pontianak Disway-

PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK – Kewaspadaan terhadap potensi wabah penyakit baru terus ditingkatkan oleh otoritas kesehatan di Indonesia. Pada Selasa, 3 Februari 2026, RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak menggelar sesi edukasi mendalam guna memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai ancaman Virus Nipah.

Langkah ini diambil sebagai bentuk respons proaktif terhadap isu kesehatan global dan upaya memperkuat sistem ketahanan kesehatan di tingkat daerah. Meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus positif di wilayah Kalimantan Barat maupun Indonesia secara umum, pengetahuan mengenai cara penularan dan gejala menjadi kunci utama dalam pencegahan.

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah merupakan jenis virus zoonosis, yang berarti penyakit ini menular dari hewan ke manusia. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada akhir tahun 1990-an dan sejak itu beberapa kali menyebabkan wabah di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Dalam sesi edukasi tersebut, dr. Gita Risti Novianti, selaku Dokter Umum RSUD SSMA, memberikan penjelasan rinci mengenai karakteristik virus ini. Kepada Pontianak Disway, ia memaparkan bagaimana siklus hidup virus ini di alam liar hingga potensi risikonya terhadap manusia.

"Jadi, virus Nipah ini sendiri adalah virus yang dibawa oleh kelelawar buah, yang memang sebagai reservoir alami atau zoonotic emerging. Jadi, si kelelawar buah ini dia biasanya bisa langsung menularkan ke manusia dan juga bisa langsung terhadap ke buah-buahan juga, salah satunya adalah buah nira atau buah aren. Seperti itu," ujar dr. Gita.

Kelelawar buah dari famili Pteropodidae dikenal sebagai inang alami virus ini. Penularan dapat terjadi jika manusia mengonsumsi buah-buahan yang telah terkontaminasi oleh air liur atau urine kelelawar yang terinfeksi.

 

BACA JUGA:Pemkot Pontianak Terapkan Sistem Satu Arah Jalan Paralel Sungai Raya Dalam

Mengenali Gejala Virus Nipah

Masyarakat sering kali sulit membedakan infeksi virus Nipah dengan penyakit umum lainnya karena gejala awalnya yang mirip dengan flu biasa. Namun, virus ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi jika tidak segera ditangani.

Menurut dr. Gita Risti Novianti, spektrum gejala virus ini cukup luas, mulai dari gangguan pernapasan ringan hingga komplikasi saraf yang berat.

"Untuk gejalanya, sama seperti gejala infeksi yang lainnya, yaitu demam, nyeri otot, kemudian ada batuk, ada pilek, dan yang lebih parahnya lagi mungkin bisa saja terjadi kejang," jelasnya lebih lanjut.

Pada kasus yang lebih serius, pasien dapat mengalami ensefalitis atau peradangan otak akut yang bisa menyebabkan koma dalam waktu 24 hingga 48 jam. Oleh karena itu, deteksi dini melalui pengenalan gejala klinis sangat krusial bagi tenaga medis maupun masyarakat luas.

Strategi Pencegahan dan Kewaspadaan Perjalanan

Mengingat belum adanya vaksin spesifik untuk manusia maupun obat antiviral yang terbukti efektif secara total untuk virus Nipah, pencegahan adalah jalan satu-satunya. RSUD SSMA menekankan pentingnya menjaga kebersihan personal dan kewaspadaan terhadap sumber makanan.

Terkait langkah preventif, dr. Gita memberikan panduan praktis yang perlu diikuti oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang sering melakukan perjalanan internasional atau tinggal di area yang dekat dengan habitat kelelawar.

"Untuk melakukan pencegahan, kita bisa menghindari kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi. Terus kita juga mencegah perjalanan ke luar negeri, terutama ke India. Ataupun jika harus ke India, kita harus menjaga diri dengan menggunakan masker dan menjaga kebersihan juga. Kemudian, karena si kelelawar buah ini memakan buah, nah kita diharapkan membersihkan buah yang akan kita makan atau kita konsumsi dan pastikan buah itu benar-benar bersih, tidak ada bekas gigitan dari hewan atau yang kita duga kelelawar," papar dr. Gita.

India merupakan salah satu negara yang beberapa kali melaporkan kejadian luar biasa (KLB) virus Nipah, sehingga pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari wilayah terdampak menjadi perhatian serius bagi Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes).

Kondisi Terkini di Kota Pontianak

Meski edukasi ini dilakukan secara intensif, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik. RSUD SSMA memastikan bahwa hingga detik ini, belum ada indikasi penyebaran virus Nipah di Kota Khatulistiwa.

"Saat ini untuk di Pontianak sendiri belum ada ditemukan penyakit virus Nipah, bahkan di Indonesia pun belum ada ditemukan. Jadi, makanya dari Kemenkes ini melakukan pencegahan dini agar tidak terjadi penyakit virus Nipah di Indonesia," pungkas dr. Gita.

Pihak RSUD SSMA berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Pontianak dan Kemenkes dalam memantau perkembangan penyakit menular di pintu-pintu masuk wilayah guna memastikan keamanan warga. Dengan edukasi ini, diharapkan masyarakat lebih selektif dalam memilih konsumsi buah dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mencurigakan setelah melakukan kontak dengan hewan liar.

Sumber: