Pesan artikel

Gaya Hidup Anak Muda Pontianak di Tengah Arus Globalisasi dan Era Digital

Gaya Hidup Anak Muda Pontianak di Tengah Arus Globalisasi dan Era Digital

Rizal Armada bersama para anak muda barista di Saujana Pontianak-Pontianak Disway-dokumen istimewa

PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Gaya hidup anak muda di Pontianak kini semakin dinamis dan berkembang cepat seiring arus globalisasi, transformasi digital, serta meningkatnya akses informasi dan kreativitas. Perubahan sosial ini membawa peluang besar sekaligus tantangan, di mana generasi muda di Pontianak berusaha menyesuaikan diri dengan tren global tanpa kehilangan identitas budaya lokal.

BACA JUGA:Gaya Hidup Anak Muda Pontianak di Tengah Arus Globalisasi dan Era Digital

Budaya Nongkrong Modern dan Digital

Salah satu ciri gaya hidup anak muda Pontianak adalah budaya nongkrong di kafe dan coffee shop, yang menjadi ruang sosial utama untuk berinteraksi, berkumpul, dan berekspresi. Pontianak bahkan dikenal sebagai kota dengan ratusan kedai kopi modern dan tradisional yang tersebar di pusat kota, menawarkan suasana santai hingga tempat berkegiatan kreatif hingga larut malam. Kedai seperti El Luna Cafe atau warung kopi klasik seperti Asiang dan Weng Coffee menjadi tempat populer anak muda untuk hangout dan berjejaring sosial. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya tradisional ngopi dipadukan dengan gaya hidup modern generasi sekarang. 

Tak hanya nongkrong, media sosial memegang peran besar dalam membentuk gaya hidup generasi muda di Pontianak. Platforms seperti Instagram dan TikTok dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman, tren fashion, kuliner terbaru, hingga aspirasi sosial. Tidak sedikit pemuda yang memulai aktivitas kepemimpinan dan kegiatan sosial dari ruang digital, lalu mengembangkannya ke aksi nyata di masyarakat seperti kampanye lingkungan, pendidikan, atau seni.

BACA JUGA:RSUD SSMA Pontianak Ungkap Tips Aman Minum Obat Saat Puasa

Literasi Digital sebagai Kunci Adaptasi

Globalisasi membawa teknologi digital ke dalam keseharian generasi muda Pontianak, tetapi hal ini juga menuntut kemampuan literasi digital yang lebih tinggi. Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menegaskan bahwa kemampuan memahami teknologi menjadi kunci generasi muda dalam menghadapinya, karena tanpa literasi yang cukup, teknologi bisa menjadi “pisau bermata dua” yang membawa dampak negatif seperti penyebaran informasi tidak benar dan konten berbahaya. 

Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan juga mendorong pelatihan literasi digital dan etika penggunaan media sosial bagi pemuda, menekankan pentingnya penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan produktif di era informasi ini.

BACA JUGA:Dua Budaya Khas Pontianak Ditetapkan sebagai WBTb Indonesia

Tantangan di Era Digital

Sumber: