Makam Bersejarah di Pontianak dan Latar Belakangnya
Penampakan Makam Kesultanan Pontianak yang berada di Batu Layang--dokumen istimewa
PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Kota Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa yang kaya akan situs sejarah, termasuk sejumlah makam bersejarah yang menyimpan kisah masa lalu panjang daerah ini. Dari kompleks makam keluarga kesultanan hingga makam zaman kolonial yang jarang diketahui publik, peninggalan ini menjadi saksi perjalanan sejarah, budaya, dan perjuangan masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat.
BACA JUGA:Makam Bersejarah di Pontianak dan Kisah di Baliknya
Kompleks Makam Kesultanan Pontianak: Jejak Kerajaan Melayu
Salah satu makam paling bersejarah di Pontianak adalah Kompleks Makam Kesultanan Pontianak yang berada di Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara. Kompleks ini dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir para Sultan Pontianak dan keluarganya, termasuk Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak. Kediaman terakhir para sultan menjadi objek ziarah penting di kota ini karena perannya dalam sejarah pembentukan Pontianak sejak tahun 1771.
Makam ini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Setiap makam dilengkapi nisan khas dengan ukiran dan simbol Islam, termasuk lambang bulan dan bintang, serta bahan material seperti kayu belian dan marmer yang menunjukkan status bangsawan. Bentuk dan desain makam mencerminkan tradisi Melayu dan struktur hierarki sosial di Kesultanan Pontianak.
Tradisi ziarah ke makam tersebut menjadi agenda rutin bagi warga Pontianak, terutama dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Pontianak setiap 23 Oktober. Ziarah dilakukan untuk menghormati jasa para pendiri kota dan mengingat kontribusi mereka dalam pembangunan Pontianak modern. Prosesi ini biasanya diawali dengan pembacaan surah Yasin, tahlil, dan doa bersama di area makam yang khidmat.
Sebelumnya pemerintah setempat bersama Kementerian PUPR menyelesaikan proyek revitalisasi kawasan Makam Kesultanan Pontianak, mempercantik fasilitas dan menata area makam beserta infrastruktur pendukung seperti dermaga apung serta jalur pejalan kaki di tepi Sungai Kapuas. Revitalisasi ini menjadikan kawasan makam sebagai destinasi wisata sejarah dan religi bertaraf internasional.
BACA JUGA:Pontianak Langganan Event Nasional, Wako Edi Kamtono Sebut Kota Toleran Jadi Daya Tarik
Makam Zaman Kolonial: Jejak Perkembangan Sosial
Selain makam keluarga kesultanan, Pontianak juga menyimpan sejumlah makam zaman kolonial Belanda yang diperkirakan dibangun pada awal abad ke-20. Beberapa makam ini dilengkapi monumen dan menjadi bukti keberadaan komunitas Eropa di Pontianak sebelum Perang Dunia I. Ahli sejarah Kalimantan Barat menyebut bahwa makam tersebut kini menjadi perhatian khusus untuk dilestarikan sebagai situs sejarah jika memenuhi persyaratan tertentu. Temuan ini membuka peluang pengembangan narasi sejarah kolonial di kota yang lebih dikenal dengan sejarah kesultanan.
BACA JUGA:Songsong Bonus Demografi, Wali Kota Pontianak Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan
Makam Juang Mandor: Saksi Perjuangan Nasional
Meski secara administratif berada di Kabupaten Landak, Makam Juang Mandor yang sering dikunjungi pelajar dan masyarakat Pontianak juga menjadi bagian penting catatan sejarah Kalimantan Barat. Makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir para pejuang kemerdekaan Indonesia yang gugur dalam pertempuran melawan penjajahan Jepang pada 28 Juni 1944. Momen ini menunjukkan sisi sejarah perjuangan bangsa yang berdampak luas, termasuk pada masyarakat di Pontianak.
Sumber:





