RSUD Sekadau
Pesan artikel
Backlink iklan

Mengenal Rumah Adat Dayak dan Makna Filosofinya bagi Masyarakat Kalimantan Barat

Mengenal Rumah Adat Dayak dan Makna Filosofinya bagi Masyarakat Kalimantan Barat

Rumah adat Dayak di Kaliamantan Barat --dokumen istimewa

PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Rumah adat Dayak menjadi salah satu aset budaya paling penting di Kalimantan Barat (Kalbar). Selain sebagai tempat tinggal, rumah adat ini sarat akan nilai filosofis yang mencerminkan gaya hidup komunal, harmoni dengan alam, dan nilai-nilai sosial masyarakat Dayak. Arsitektur dan fungsi rumah adat Dayak menunjukkan bagaimana kebudayaan tradisional tetap relevan dalam kehidupan modern.

BACA JUGA:Mengenal Rumah Adat Dayak dan Makna Filosofinya bagi Masyarakat Kalimantan Barat

Arsitektur Rumah Adat Dayak di Kalbar

Rumah adat Dayak di Kalbar umumnya dikenal sebagai Rumah Betang atau Rumah Radakng — rumah panjang khas suku Dayak Kanayatn yang merupakan representasi hunian komunal tradisional. Struktur rumah ini memanjang, dibangun di atas tiang panggung, serta dibuat dari kayu ulin yang kuat dan tahan lama. Panjang rumah adat ini bisa mencapai ratusan meter, dengan bilik-bilik yang masing-masing dihuni oleh satu keluarga, mencerminkan kehidupan kolektif yang erat. 

Rumah Betang bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang kegiatan sosial, upacara adat, dan pusat pertemuan komunitas. Bentuk rumah yang panjang dan menyatukan banyak keluarga dalam satu atap menunjukkan semangat gotong royong, toleransi, dan solidaritas, yang merupakan fondasi utama dalam budaya Dayak. 

BACA JUGA:Pelantikan ICDN Kalbar: Gubernur Ria Norsan Tekankan Pentingnya Peran Intelektual Dayak

Filosofi Rumah Betang

Makna filosofis di balik rumah adat Dayak sangat dalam dan berakar pada nilai-nilai kultural masyarakat. Rumah Betang melambangkan persatuan dan keharmonisan dalam masyarakat. Meskipun setiap keluarga memiliki ruang privatnya sendiri, mereka tetap tinggal dalam satu struktur besar yang sama, menunjukkan pentingnya kerja sama dan hidup bersama sebagai satu komunitas. 

Filosofi tersebut juga tercermin dalam orientasi rumah, di mana bagian hulu rumah yang menghadap ke timur melambangkan kerja keras sejak matahari terbit, sementara bagian hilir yang menghadap ke barat memiliki pesan agar tidak berhenti bekerja sampai matahari terbenam. Filosofi ini mengajarkan nilai-nilai etos kerja dan ketekunan kepada generasi berikutnya. 

Selain itu, penggunaan material alami seperti kayu dan struktur panggung menunjukkan harmoni antara manusia dan alam. Rumah Betang dibangun dengan memperhatikan lingkungan sekitar, serta mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan pelestarian alam. 

BACA JUGA:Muswil II ICDN Kalbar Dorong Penguatan Cendekiawan Dayak dan Akses Pendidikan

Rumah Betang sebagai Simbol Identitas dan Sosial

Rumah adat Dayak juga menjadi simbol identitas budaya yang kuat. Rumah panjang bukan sekadar tempat tinggal, tetapi pusat kehidupan adat seperti upacara Gawai Dayak, ritual pernikahan, maupun pesta panen. Aktivitas kebersamaan di dalam rumah adat mempererat hubungan antar anggota komunitas dan menjaga tradisi tetap hidup. 

Rumah adat seperti Radakng bahkan kini berfungsi juga sebagai ikon budaya dan objek wisata yang menarik minat masyarakat luas untuk belajar tentang budaya Dayak. Pemerintah daerah bersama komunitas adat terus berupaya melestarikan rumah adat ini sebagai warisan budaya yang harus dijaga di tengah modernisasi. 

Sumber: