4. Bayar bea terutang beserta sanksinya sesuai perhitungan petugas
5. Simpan bukti pengesahannya bersama dokumen aslinya
Langkah kelima paling sering dilupakan. Tanpa bukti pengesahan, Anda harus menjelaskan prosesnya dari awal lagi.
Tiga Kesalahpahaman yang Paling Sering Terjadi
Mengira seluruh dokumen wajib bermeterai
Undang-undang justru mengecualikan sejumlah dokumen secara tegas. Beberapa yang paling sering salah diperlakukan:
• Ijazah dan dokumen sejenis dari lembaga pendidikan
• Tanda terima pembayaran gaji, pensiun, dan tunjangan terkait hubungan kerja
• Kuitansi pajak serta tanda bukti penerimaan uang negara
• Surat gadai dan dokumen pengangkutan barang
Membubuhkan meterai pada berkas tersebut tidak membuatnya lebih kuat. Pengeluarannya hanya terbuang tanpa manfaat hukum apa pun.
Mengira ambang lima juta berlaku untuk semua
Banyak orang hafal angka lima juta rupiah, tetapi salah menempatkannya. Ambang itu berlaku khusus untuk dokumen yang menyatakan jumlah uang. Surat perjanjian bukan termasuk kategori tersebut.
Konsekuensinya penting dipahami. Kontrak sewa bernilai dua juta rupiah tetap terutang bea meterai. Nilai transaksinya tidak menjadi penentu dalam kategori ini.
Mengira meterai membuktikan identitas
Kesalahpahaman ketiga paling jarang dibahas. Meterai sama sekali tidak memeriksa siapa yang menandatangani. Fungsinya murni sebagai pelunasan pajak atas dokumen.
Pemeriksaan identitas dijalankan oleh Tandatangan Elektronik bersertifikat, bukan oleh meterai. Keduanya menjawab persoalan berbeda, dan sebaiknya tidak dipertukarkan. Satu dokumen bisa memerlukan keduanya sekaligus.
Langkah Aman bila Perjanjian Tanpa Meterai Sudah Berjalan
Yang sebaiknya dihindari
Tindakan cepat sering memperburuk keadaan. Tiga hal berikut sebaiknya tidak dilakukan:
• Membuat ulang kontrak dengan tanggal yang dimundurkan
• Menempelkan meterai bekas dari dokumen lain