Fasilitas tersebut juga menghasilkan produk samping bernilai ekonomi berupa sekitar 1,5 juta ton asam sulfat, 1,3 juta ton copper slag, dan 150 ribu ton gipsum per tahun yang sebagian besar dipasarkan untuk kebutuhan industri dalam negeri.
Tony menjelaskan operasional smelter sempat menghadapi tantangan setelah terjadi kebakaran di fasilitas Gas Cleaning Plant pada Oktober 2024. Perbaikan berhasil diselesaikan sehingga smelter kembali beroperasi pada Mei 2025. Namun, operasi kembali terganggu akibat longsoran di Grasberg Block Cave yang menyebabkan pasokan konsentrat terhenti.
Saat ini perusahaan memanfaatkan masa penghentian operasi untuk melakukan inspeksi menyeluruh dan penyempurnaan fasilitas sebelum smelter kembali menerima pasokan konsentrat dari Papua mulai September tahun ini.
"Fokus kami saat ini adalah memastikan proses pemulihan tambang berjalan aman sehingga pasokan konsentrat kembali normal. Ketika sisi hulu pulih dan smelter beroperasi penuh, manfaat hilirisasi akan semakin optimal, baik dalam bentuk peningkatan produksi logam, penguatan industri dalam negeri, maupun peningkatan penerimaan negara," ujar Tony.
Menurut dia, produksi tambang pada 2026 diperkirakan masih berada di kisaran 65 persen kapasitas akibat proses pemulihan pascalongsor. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 75 persen pada semester pertama 2027 sebelum kembali mencapai 100 persen menjelang akhir tahun.
"Kami melakukan proses ramp up secara bertahap karena keselamatan operasi menjadi prioritas utama. Ketika produksi kembali normal pada akhir 2027, seluruh fasilitas hilirisasi akan dapat beroperasi secara optimal sesuai kapasitas yang telah dibangun," kata Tony.
Sejalan dengan pemulihan tersebut, produksi logam juga meningkat secara bertahap. Pada 2026, Freeport menargetkan menghasilkan sekitar 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas atau sekitar 21 ton emas. Produksi diproyeksikan meningkat menjadi 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ounce emas atau sekitar 31 ton pada 2027, kemudian mencapai 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounce emas atau sekitar 43 ton pada 2028.
Mulai 2029, produksi akan ditopang oleh tambang bawah tanah Kucing Liar yang dipersiapkan menggantikan tambang DMLZ sehingga kapasitas produksi dapat dipertahankan di kisaran 220 ribu ton bijih per hari. Keberadaan tambang tersebut diharapkan menjamin pasokan bahan baku bagi industri pengolahan tembaga nasional dalam jangka panjang.
Dengan asumsi harga tembaga sebesar 6 dolar AS per pound dan harga emas sebesar 4.500 dolar AS per ounce, penerimaan negara pada 2026 diperkirakan mencapai 2,6 miliar dolar AS.
Seiring pulihnya produksi, penerimaan negara diproyeksikan meningkat menjadi 4,7 miliar dolar AS pada 2027, yang terdiri atas sekitar 1,9 miliar dolar AS penerimaan pajak, 1,9 miliar dolar AS dividen melalui MIND ID, serta sekitar 800 juta dolar AS penerimaan negara bukan pajak (PNBP) termasuk royalti.
Saat kapasitas produksi telah pulih sepenuhnya, kontribusi Freeport kepada negara diperkirakan menembus lebih dari 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp120 triliun per tahun.
Melalui kepemilikan nasional di bawah MIND ID, manfaat hilirisasi tembaga tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat industri pengolahan mineral nasional, tetapi juga meningkatkan dividen kepada negara, memperbesar penerimaan pajak dan PNBP, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen produk tembaga bernilai tambah di pasar global.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES