Cap Go Meh: Simbol Perayaan dan Harapan Universal
Perayaan Imlek di Kalbar tidak hanya berhenti pada awal tahun baru, tetapi berlangsung hingga perayaan Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15 tahun baru lunar. Cap Go Meh memiliki makna mendalam sebagai puncak rangkaian perayaan, yang juga menjadi waktu untuk introspeksi, memohon keberuntungan, serta menutup periode Imlek dengan harapan baru yang lebih kuat.
Tradisi ini sangat populer di Singkawang yang dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng dan menjadi daya tarik wisata budaya nasional maupun internasional.
Singkawang bahkan memusatkan perayaan Cap Go Meh pada Stadion Kridasana dengan berbagai atraksi budaya seperti barongsai, tarian naga, dan pawai lampion yang meriah. Pemerintah setempat menyatakan bahwa perayaan ini juga berkontribusi pada perekonomian daerah melalui peningkatan kunjungan wisatawan dan kegiatan UMKM.
BACA JUGA:Rayakan Imlek Dengan Lunar Prosperity Feast di Novotel Pontianak Convention Centre
Toleransi dan Integrasi Sosial
Makna Imlek bagi masyarakat Tionghoa di Pontianak dan Singkawang menjadi simbol toleransi dan keberagaman di tengah kehidupan multikultural Kalimantan Barat. Di Pontianak, misalnya, warga berbagai latar belakang budaya turut merayakan kemeriahan melalui pawai naga, lampion, dan festival kuliner yang dinikmati oleh masyarakat luas. Hal ini memperlihatkan bagaimana Imlek telah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang inklusif.
BACA JUGA:Imlek dan Cap Go Meh 2026 Bertepatan Ramadhan, Singkawang Perkuat Citra Kota Toleran
Imlek sebagai Warisan Budaya yang Hidup
Perayaan Imlek di Pontianak dan Singkawang menunjukkan bagaimana tradisi leluhur tetap hidup di era modern. Nilai-nilai seperti kebersamaan keluarga, penghormatan terhadap leluhur, harapan akan keberuntungan, serta rasa saling menghormati antar umat beragama menjadi pesan utama yang terkandung dalam perayaan ini.