Bitcoin Diprediksi Ungguli Saham dan Emas, CEO FLOQ Ungkap Alasannya
--
Bitcoin (BTC) diproyeksikan memberikan imbal hasil tahunan sebesar 10% dalam 10 tahun ke depan, melampaui saham Amerika Serikat (AS) dan emas. Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan 2027 Long-Term Capital Market Assumptions yang dirilis JPMorgan Asset Management pada Oktober 2026.
Dalam laporan tersebut, JPMorgan memperkirakan imbal hasil tahunan Bitcoin mencapai 10%, dibandingkan saham AS berkapitalisasi besar sebesar 7,5% dan emas sebesar 5,5%. Saham AS berkapitalisasi kecil diproyeksikan menghasilkan imbal hasil 7,7% per tahun.
Sementara itu, obligasi AS diproyeksikan memberikan imbal hasil tahunan sebesar 5,6%, sedangkan uang tunai dalam dolar AS sebesar 3,2%.
Proyeksi ini menandai meningkatnya perhatian institusi keuangan terhadap Bitcoin sebagai salah satu aset yang diperhitungkan dalam perencanaan investasi jangka panjang. Meski demikian, JPMorgan menegaskan bahwa potensi imbal hasil yang lebih tinggi juga disertai risiko yang lebih besar.
Volatilitas Bitcoin Masih Menjadi Tantangan
JPMorgan memperkirakan volatilitas tahunan Bitcoin mencapai 55%, jauh di atas saham AS berkapitalisasi besar sebesar 18% dan emas sebesar 17,2%.
Tingkat volatilitas tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin berpotensi mengalami perubahan yang lebih tajam dibandingkan aset tradisional. Dengan demikian, proyeksi imbal hasil yang lebih tinggi tidak serta-merta menjamin hasil investasi yang lebih baik bagi setiap investor.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai proyeksi tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari perkembangan cara investor institusional mengevaluasi aset kripto, bukan sebagai kepastian bahwa Bitcoin akan selalu mengungguli instrumen investasi lainnya.
“Ketika institusi keuangan seperti JPMorgan mulai memasukkan Bitcoin ke dalam proyeksi imbal hasil jangka panjang, ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin diperhitungkan dalam analisis investasi. Namun, proyeksi imbal hasil harus dibaca bersama dengan profil risikonya. Bitcoin memiliki karakteristik dan volatilitas yang berbeda dari saham maupun emas, sehingga investor perlu memahami potensi keuntungan sekaligus risiko yang menyertainya,” kata Yudho.
Menurut Yudho, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada perbandingan angka imbal hasil. Investor juga perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, kemampuan menghadapi risiko, serta kondisi pasar yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Infrastruktur dan Regulasi Mendukung Perhatian Institusional
JPMorgan menyoroti sejumlah faktor yang mendorong meningkatnya perhatian terhadap pasar kripto, termasuk perkembangan regulasi, infrastruktur perdagangan, produk investasi, dan layanan kustodian aset digital.
Kehadiran produk seperti ETF Bitcoin dan perdagangan futures turut memperluas akses investor terhadap aset kripto melalui instrumen pasar yang lebih terstruktur.
Bitcoin juga memiliki rekam jejak operasional yang panjang serta likuiditas pasar yang terus berkembang. Meski demikian, JPMorgan belum sepenuhnya memasukkan Bitcoin ke dalam model utama analisis risiko dan hubungan antar-aset dalam portofolio investasinya.
Pendekatan tersebut mencerminkan bahwa integrasi Bitcoin ke dalam kerangka investasi institusional masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait volatilitas dan hubungan pergerakan harganya dengan aset lain.
Yudho menambahkan bahwa perkembangan infrastruktur dan regulasi dapat menjadi faktor penting bagi pertumbuhan pasar aset kripto dalam jangka panjang.
Sumber: vritimes.com


