Global Creative Services

Mengapa Bisnis Bisa "Untung", tetapi Tetap Kehabisan Cash?

Mengapa Bisnis Bisa

--

Krisis arus kas akibat keterlambatan pembayaran piutang masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha di seluruh dunia. Salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi ini adalah operasional bisnis yang belum berjalan secara optimal. Lantas, bagaimana pendekatan operasional yang lebih efektif dapat membantu UMKM menjaga arus kas tetap sehat dan stabil secara berkelanjutan?

Pada era ekonomi dewasa ini, bayangkan sebuah situasi di mana bisnis Anda mencatatkan penjualan yang terus melesat. Di atas kertas, laporan menunjukkan angka hijau, pesanan terus ada, dan proyek terselesaikan tepat waktu.

Namun, ketika tiba waktunya membayar sewa kantor, gaji tim, hingga invoice pemasok, saldo di rekening perusahaan justru kondisinya kritis.

"Kalau bisnis ini untung, kenapa rasanya selalu pas-pasan?"

Pertanyaan tersebut menjadi pemantik diskusi kecil bertajuk "Making Money vs. Having Money" yang digelar di Kuala Lumpur pada 23 September 2026 lalu. Fenomena ini bukan sekadar teori, melainkan pola sistematis yang dialami hampir semua pemilik usaha yang menerapkan sistem pembayaran tempo (credit terms)—mulai dari skala mikro hingga menengah di berbagai sektor industri.

Pola Sistematis di Balik Lemahnya Arus Kas

Dalam operasional harian, jurang antara "pendapatan tercatat" (accural revenue) dan "uang tunai riil" (cash in) biasanya terbentuk melalui siklus berulang yang tampak wajar:

1. Pekerjaan Tuntas: Barang dikirim atau jasa diselesaikan dengan baik.

2. Faktur Terbit: Penjualan diakui secara akuntansi sebagai pendapatan (revenue).

3. Masa Penundaan: Pelanggan membutuhkan waktu berpekan-pekan hingga berbulan-bulan untuk mencairkan pembayaran.

4. Kewajiban Tetap Berjalan: Beban operasional seperti gaji, sewa, dan kewajiban vendor tetap memiliki tanggal jatuh tempo yang tidak bisa ditawar.

Ketika dua variabel tersebut dibiarkan berjarak terlalu lama, bisnis yang terlihat sehat secara performa penjualan tetap dapat mengalami krisis likuiditas mendadak.

Melihat Kesenjangan dari Kacamata Data Regional

Perasaan "selalu pas-pasan" di kalangan pemilik bisnis memiliki angka yang cukup mengkhawatirkan jika dibedah di tingkat regional:

Malaysia: Menurut data Experian Malaysia (State of Credit 2025) dan Malaysian Micro Business Association (Mamba), rata-rata keterlambatan pembayaran bagi UMKM mencapai 64 hari. Sektor mikro bahkan harus menunggu hingga 120 hari untuk pekerjaan yang telah selesai. Di sektor transportasi dan logistik, UMKM menunggu rata-rata 26 hari lebih lama dibandingkan korporasi besar.

Indonesia: Riset B2B Payment Practices Trends 2026 dari Atradius Collections menunjukkan bahwa 9 dari 10 perusahaan B2B di Indonesia mengalami keterlambatan pembayaran, di mana rata-rata sepertiga (33%) dari total piutang usaha berstatus menunggak (overdue). Keterlambatan ini dipicu oleh tekanan likuiditas pelanggan, di mana bisnis menengah (mid-sized firms) menjadi kelompok yang paling rentan. Sejalan dengan itu, data Credit Bureau Indonesia (CBI) mencatat bahwa 6 dari 10 UKM di Indonesia mengalami masalah keterlambatan pembayaran, dan sebagian besar enggan melakukan penagihan secara tegas karena mengedepankan hubungan baik (relasi) dengan klien.

Sumber: