Info Kesehatan : Skrining Bisa Cegah Thalassemia Sejak Dini
--
Thalassemia meski bersifat genetik, ternyata dapat dicegah melalui skrining sejak dini. Untuk itu, edukasi tentang thalassemia perlu terus digaungkan.
Thalassemia meski bersifat genetik, tetapi dapat dicegah melalui skrining sejak dini.
Edukasi tentang thalassemia perlu terus digaungkan. Sebab, berdasar penelitian, mayoritas masyarakat belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang kelainan darah bawaan yang diturunkan secara genetik tersebut.
Hal itu tersebut terungkap dalam Seminar dan Kuliah Umum Interprofessional Education (IPE) bertajuk Thalassemia & Skrining Thalassemia dan Kesehatan Pra Nikah di Auditorium Ukhuwah Islamiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada Kamis (17/9/2026). Kegiatan yang diinisiasi PT Prodia Widyahusada Tbk bersama UMP itu diikuti 1.000 mahasiswa dari berbagai jurusan.
Selain seminar edukasi thalassemia, pada kesempatan tersebut Prodia melaksanakan pemeriksaan darah atau skrining thalassemia gratis terhadap ratusan mahasiswa UMP. Laboratorium diagnostik terbesar di Tanah Air itu menargetkan menskrining 1.000 mahasiswa dalam beberapa hari ke depan.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, dr. Dani Esti Novia, yang mewakili Bupati Banyumas, Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M., Hadir pula Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso, S.Kp., Ns., M.Kep. dan Finance & Sustainability Director PT Prodia Widyahusada Tbk, Marina Eka Amalia, S.H., M.H.
Selain itu hadir Ketua III Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) Kabupaten Banyumas, Wahyono, S.IP.; Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Banyumas, Siti Aminah, S.Pd., M.Pd., Ketua Perhimpunan Penyandang Thalasemia Indonesia (PPTI) Cabang Banyumas, Dinar Faiza, S.S., M.A.
Narasumber seminar yang merupakan dosen Fakultas Kedokteran UMP, Dr. dr. Dewi Karita, M.Sc., menjelaskan thalassemia merupakan penyakit genetik akibat gangguan pembentukan rantai globin pada hemoglobin. Karena bersifat genetik, deteksi dini menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui seseorang merupakan pembawa sifat thalassemia atau bukan.
“Ini bukan penyakit menular, ini penyakit genetik dan bisa dicegah. Saya pikir teman-teman punya kesadaran sehingga bisa melakukan deteksi thalassemia,” ujarnya.
Menurut Dewi, Banyumas termasuk wilayah dengan kasus thalassemia cukup tinggi. Data 2021 mencatat sekitar 450 pasien thalassemia dirawat. Sementara, sekitar 8% masyarakat merupakan pembawa sifat thalassemia.
Ia juga memaparkan penelitian terhadap 52 orang usia produktif dari kalangan nonkesehatan. Hasilnya, 61,5% memiliki pengetahuan kurang mengenai thalassemia, 28,8% cukup mengetahui, dan hanya 9,6% memiliki pengetahuan baik.
“Artinya, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa masyarakat memang belum cukup mengetahui tentang thalassemia,” kata dia.
Generasi Muda
Narasumber seminar lainnya, Klinisi Patologi Klinik/Dokter Spesialis Imunologi Prof. Tonang Dwi Ardyanto, dr., SpPK, Subsp. IK(K), PhD, FISQua, CHAE., mengingatkan pembawa sifat thalassemia umumnya terlihat sehat sehingga kerap tidak menyadari kondisinya.
Sumber: vritimes.com


