Indonesia dan India: Membangun Mesin Pertumbuhan Baru Asia
--
Oleh Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono*
Jakarta — Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Kunjungan ini merupakan momentum penting untuk membawa salah satu hubungan tertua di Asia menuju kemitraan strategis yang lebih kuat dan relevan bagi abad ke-21.
Indonesia dan India telah terhubung selama lebih dari dua ribu tahun. Jauh sebelum lahirnya negara-bangsa modern, para pedagang, cendekiawan, dan pelaut telah melintasi Samudra Hindia, membawa perdagangan, kebudayaan, filsafat, ilmu pengetahuan, serta berbagai gagasan yang ikut membentuk peradaban kedua bangsa. Ikatan sejarah tersebut kini menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun kemitraan baru yang berfokus pada inovasi, investasi, pendidikan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 telah membuka babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Kunjungan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis sekaligus menunjukkan komitmen kuat dari kedua pemerintah untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor. Kini, kunjungan balasan Perdana Menteri Modi memberikan kesempatan untuk menerjemahkan berbagai kesepakatan tersebut menjadi langkah-langkah nyata yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
Saat ini, perekonomian global tengah mengalami perubahan struktural yang sangat mendasar. Rantai pasok dunia sedang mengalami penataan ulang, teknologi digital mengubah berbagai sektor industri, perubahan demografi menciptakan peluang ekonomi baru, sementara dinamika geopolitik mendorong banyak negara untuk mendiversifikasi kemitraan ekonominya. Dalam situasi seperti ini, Indonesia dan India justru memiliki keunggulan yang saling melengkapi.
India telah berkembang menjadi salah satu ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Keberhasilannya dalam bidang teknologi informasi, infrastruktur publik digital (Digital Public Infrastructure), industri farmasi, rekayasa teknik, teknologi antariksa, serta kewirausahaan telah mendapat pengakuan dunia. Pada saat yang sama, India juga berhasil menunjukkan bahwa inovasi dapat tumbuh berdampingan dengan sistem demokrasi yang kuat serta sektor swasta yang dinamis.
Sementara itu, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara yang dianugerahi sumber daya alam melimpah, posisi geografis maritim yang sangat strategis, stabilitas politik, serta populasi muda yang besar. Yang lebih penting lagi, Indonesia kini memasuki fase transformasi industri dengan beralih dari ketergantungan pada ekspor komoditas menuju pengembangan industri hilirisasi, manufaktur berteknologi maju, energi terbarukan, layanan kesehatan, ekonomi digital, dan berbagai sektor ekonomi berbasis pengetahuan.
Dalam konteks tersebut, hubungan ekonomi Indonesia dan India seharusnya tidak dipandang sebagai hubungan yang saling bersaing. Sebaliknya, kedua negara memiliki karakteristik ekonomi yang secara alami saling melengkapi. Indonesia menawarkan kawasan industri, infrastruktur logistik, akses strategis menuju pasar ASEAN, sumber daya energi yang melimpah, serta peluang investasi jangka panjang. Di sisi lain, India memiliki sumber daya manusia kelas dunia, kemampuan teknologi yang unggul, keahlian rekayasa, inovasi digital, sektor kesehatan yang berkembang pesat, serta talenta kewirausahaan yang telah terbukti di tingkat global. Ketika seluruh keunggulan tersebut dipadukan, Indonesia dan India akan tumbuh jauh lebih kuat bersama dibandingkan berjalan sendiri-sendiri.
Berdasarkan pengalaman saya membangun Kota Jababeka selama lebih dari tiga dekade, saya belajar bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun sebuah ekosistem yang utuh, di mana kawasan industri, perguruan tinggi, lembaga penelitian, fasilitas kesehatan, kawasan hunian, dan masyarakat dapat berkembang secara bersama-sama. Pendekatan ekosistem inilah yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Karena itu, tahap berikutnya dalam kerja sama Indonesia dan India perlu bergerak melampaui perdagangan tradisional. Kedua negara perlu bersama-sama membangun ekosistem inovasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Terdapat sejumlah bidang yang sangat menjanjikan untuk segera dipercepat melalui kerja sama yang lebih konkret.
Pertama adalah pengembangan industri. Perusahaan-perusahaan manufaktur India yang ingin memperluas operasinya ke Asia Tenggara dapat menjadikan Indonesia sebagai basis produksi yang strategis. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan Indonesia juga dapat memanfaatkan keunggulan India dalam bidang rekayasa teknik serta jaringan bisnis global yang dimilikinya.
Kedua adalah layanan kesehatan dan ilmu hayati (life sciences). Indonesia saat ini terus meningkatkan investasi di bidang pendidikan kedokteran dan penelitian kesehatan. Kerja sama dengan berbagai institusi medis terkemuka di India dapat mempercepat pengembangan riset bersama, teknologi kesehatan, industri farmasi, telemedisin, hingga inovasi layanan kesehatan yang terjangkau dan dapat memberikan manfaat bagi jutaan masyarakat.
Ketiga adalah pendidikan tinggi dan pengembangan talenta. Perguruan tinggi perlu menjadi jembatan strategis yang memperkuat hubungan kedua negara. Program pertukaran mahasiswa, pusat riset bersama, program gelar ganda (dual degree), kolaborasi antar-dosen, penelitian kecerdasan buatan, bioteknologi, hingga pendidikan kewirausahaan akan menghasilkan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh berbagai industri masa depan.
Keempat adalah ekonomi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Ekosistem digital India yang telah diakui secara global, dipadukan dengan pesatnya pertumbuhan pasar digital Indonesia, membuka peluang kerja sama yang sangat besar dalam pengembangan aplikasi AI, teknologi finansial (fintech), keamanan siber, manufaktur cerdas (smart manufacturing), tata kelola digital (digital governance), hingga pengembangan perusahaan rintisan (startup).
Sumber: vritimes.com


