Kemarau Panjang Ancam Kalbar, Pemerintah Siapkan Hujan Buatan
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq (kanan tengah) saat melakukan kunjungan kerja di Desa Rasau Jaya Umum-prokopim_kuburaya-Facebook
PONTIANAKINFO.COM, KUBU RAYA - Pemerintah bergerak cepat merespons ancaman dampak kemarau panjang yang diprediksi mencapai puncak pada Juli hingga September 2026. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan bahwa Kalimantan Barat akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan biasanya. Ia menyebut kondisi ini bukan sekadar siklus tahunan, tetapi berpotensi menjadi ancaman serius jika tidak diantisipasi sejak dini.
“Kita kedatangan tamu tahunan yaitu musim kemarau. Tahun ini agak lebih panjang, diperkirakan berakhir hingga September,” kata Menteri Hanif dalam kunjungan kerjanya di Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya pada Kamis, 16 April 2026.
BACA JUGA:Kemarau Panjang Ancam Kalbar, Pemerintah Siapkan Hujan Buatan
Karena itu, ia menyebut pentingnya data lapangan dari daerah untuk mendukung langkah strategis nasional, termasuk koordinasi dengan BMKG dan BNPB dalam upaya modifikasi cuaca.
“Data itu akan lari ke kami, kemudian kami sampaikan ke BMKG dan BNPB untuk membangun hujan buatan. Selama masih ada bibit awan, ini harus dimanfaatkan,” paparnya.
BACA JUGA:Wilayah Ini Diprediksi Lebih Panas di Awal Kemarau 2026 Versi BMKG
Menteri Hanif mengungkapkan prediksi curah hujan tahun ini disebut sebagai salah satu yang terendah dalam tiga dekade terakhir. Hal itu, kata dia, mengharuskan adanya upaya antisipasi sejak dini.
“Di puncak kemarau nanti sekitar Juli, kita akan menghadapi curah hujan terendah selama 30 tahun terakhir. Ini harus kita antisipasi dari sekarang,” ucapnya.
BACA JUGA:Antisipasi Karhutla, Kubu Raya Petakan Wilayah Rawan Hadapi Musim Kering
Salah satu upaya antisipasi adalah menjaga kelembaban gambut untuk memastikan ketersediaan air melalui berbagai intervensi teknis.
“Hanya dengan cara itu kita bisa mengisi air di gambut. Pakai teori apa pun enggak akan bisa kalau airnya tidak ada,” jelasnya.
BACA JUGA:Atasi Permasalahan Kekeringan, Pertamina Bangun Embung Watu Macan Berbasis Agroforestri
Karena itu, ia menekankan pentingnya pengawasan tinggi muka air tanah oleh tim di lapangan. Informasi tersebut krusial untuk menentukan langkah penanganan sebelum kondisi semakin kritis. Selain itu, Menteri Hanif juga menyoroti pentingnya pembangunan dan optimalisasi canal blocking atau sekat kanal sebagai upaya menahan air di kawasan gambut.
“Nanti akan dirumuskan canal blocking mana yang harus segera diaktifkan atau dibangun. Ini penting untuk menyimpan air selama masih ada hujan,” terangnya.
Sumber: prokopim kubu raya


