Pesan artikel

Makna Mendalam Jumat Agung: Antara Narasi Alkitab dan Peringatan Cuaca Ekstrem di Pontianak

Makna Mendalam Jumat Agung: Antara Narasi Alkitab dan Peringatan Cuaca Ekstrem di Pontianak

Tablo Kisah Sengsara dan Penyaliban Yesus Kristus-Ketedral Jakarta-Instagram

PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Umat Kristiani di seluruh dunia, termasuk di Kota Pontianak, kembali memasuki masa liturgi yang paling sakral, yakni Jumat Agung. Hari ini dikenal secara universal sebagai hari untuk mengenang wafatnya Tuhan Yesus Kristus, sebuah peristiwa yang menjadi inti dari iman Kristiani. Namun, peringatan tahun ini membawa nuansa yang sangat reflektif bagi warga Kalimantan Barat, mengingat fenomena alam yang diprediksi terjadi selaras dengan catatan sejarah dalam Alkitab.

BACA JUGA:Makna Mendalam Jumat Agung: Antara Narasi Alkitab dan Peringatan Cuaca Ekstrem di Pontianak

Refleksi Alkitabiah: Kegelapan dan Guncangan Alam

Dalam teologi Kristiani, wafatnya Yesus Kristus bukan sekadar peristiwa kematian biasa, melainkan momen yang disertai dengan tanda-tanda alam yang dahsyat. Hal ini bukan tanpa alasan; alam semesta digambarkan ikut "berduka" atas pengorbanan Sang Juru Selamat.

Dikisahkan dalam alkitab bahwa pada hari itu wafatnya Tuhan disertai dengan gempa, badai, dan petir. Salah satu rujukan paling kuat terdapat dalam Injil Matius yang menggambarkan suasana mencekam di Bukit Golgota. Berdasarkan Matius 27:45: Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi daerah itu sampai jam tiga. Fenomena kegelapan total di tengah hari tersebut, yang diikuti dengan terbelahnya tabir Bait Suci dan guncangan tanah, menjadi simbolis betapa besarnya dampak peristiwa tersebut bagi dunia. Bagi umat, kilat dan guntur bukan sekadar cuaca buruk, melainkan pengingat akan kekuatan ilahi dan pengorbanan yang tiada tara.

BACA JUGA:Long Weekend April 2026, Cek Jadwal Libur Nasional dan Arti Jumat Agung

Peringatan BMKG: Cuaca Ekstrem Menjelang Jumat Agung di Pontianak

Secara kebetulan yang menggetarkan hati, kondisi atmosfer di Kota Pontianak menjelang peringatan wafatnya Yesus tahun ini menunjukkan kemiripan dengan narasi dramatis tersebut. Tahun ini pun tak jauh berbeda, sehari sebelum Jumat Agung di Pontianak, BMKG mengumumkan cuaca pada jumat agung akan mendung, hujan, serta kilatan petir.

Berdasarkan rilis resmi dari Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak, wilayah Kalimantan Barat memang sedang berada dalam fase transisi atau pancaroba. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang.

Bagi banyak jemaat di Pontianak, pengumuman cuaca ini menambah kedalaman makna ibadah.

"Mendengar kabar bahwa Jumat Agung akan diiringi mendung dan petir membuat kami seolah ditarik kembali ke suasana ribuan tahun lalu di Yerusalem," ujar salah satu warga yang bersiap mengikuti prosesi visualisasi jalan salib.

BACA JUGA:Hukum Shalat Jumat Saat Idul Fitri 2026, Ini Pandangan Ulama dan Hadist

Persiapan Ibadah di Tengah Tantangan Cuaca

Meskipun cuaca diprediksi ekstrem, antusiasme umat untuk mengikuti rangkaian Tri Hari Suci tidak surut. Pihak gereja-gereja besar di Pontianak, seperti Katedral Santo Yosep dan gereja-gereja HKBP serta GKE, telah menyiapkan langkah antisipasi. Tenda-tenda tambahan diperkuat dan sistem drainase di sekitar area gereja dipastikan lancar untuk menyambut ribuan jemaat yang akan melakukan penghormatan salib.

Sumber: