RSUD Kota
Pesan artikel

BBM Langka di Hulu Sintang, DPRD Desak Pertamina Percepat Distribusi

BBM Langka di Hulu Sintang, DPRD Desak Pertamina Percepat Distribusi

Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sintang, Santosa, hadir bersama Wakil Ketua Komisi A Rudy Andreas Mendatangi Pertamina Sintang-KalbarPost.id-dokumen istimewa

PONTIANAKINFO.COM, SINTANG - Turunnya debit air Sungai Kapuas dalam beberapa pekan terakhir membawa dampak luas bagi masyarakat di wilayah hulu Kabupaten Sintang. Selain menyebabkan alur sungai semakin dangkal dan menghambat aktivitas transportasi air, kondisi tersebut juga memicu gangguan serius terhadap distribusi bahan bakar minyak (BBM), khususnya di Kecamatan Serawai dan Ambalau.

Keterbatasan pasokan membuat harga Pertalite di tingkat pengecer melonjak tajam hingga mencapai Rp40.000 per liter. Harga tersebut jauh melampaui harga eceran resmi yang telah ditetapkan pemerintah. Akibatnya, masyarakat terpaksa mencari alternatif dengan bepergian ke Kota Sintang untuk mendapatkan BBM. Biaya transportasi tambahan, baik melalui jalur darat maupun sungai, semakin membebani warga.

Persoalan ini mendapat perhatian serius dari DPRD Kabupaten Sintang. Pada Kamis, 19 Februari 2026, jajaran Komisi A DPRD mendatangi kantor Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Sintang guna meminta penjelasan terkait keterlambatan distribusi sekaligus mendesak percepatan pengiriman pasokan ke wilayah terdampak.

BACA JUGA:BBM Langka di Hulu Sintang, DPRD Desak Pertamina Percepat Distribusi

Dilansir dari Kalbarpost.id, rombongan dipimpin Ketua Komisi A Santosa bersama Wakil Ketua Komisi A Rudy Andreas serta Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sintang. Turut mendampingi perwakilan dari SDA, Satpol PP, dan sejumlah jurnalis. Kedatangan mereka diterima langsung oleh Sales Branch Manager Fuel Terminal Sintang, Bisma Abdillah.

Dalam pertemuan tersebut, Santosa menilai kelangkaan BBM di wilayah perhuluan sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan. Ia menegaskan bahwa berbagai hambatan, termasuk musim kemarau dan persoalan transportasi, seharusnya dapat diantisipasi dengan langkah konkret dan komitmen kuat dari pihak distributor.

“Masalah kemarau, masalah angkutan, semuanya ada solusi, kalau ada niat. Jangan hanya memikirkan suplai di kota saja. Di kecamatan juga langka. Masyarakat Serawai dan Ambalau terpaksa membeli BBM dengan naik taksi ke Sintang karena tidak ada suplai ke wilayah mereka,” tegas Santosa.

BACA JUGA:Pertamina Maksimalkan Distribusi BBM via Integrated Terminal Pontianak, Pasokan Sintang Tetap Aman

Data DPRD menunjukkan hingga pertengahan Februari 2026, pasokan BBM ke Serawai hampir tidak tersedia. Sementara Ambalau hanya menerima sekitar 24 kiloliter Pertalite untuk memenuhi kebutuhan dua kecamatan sekaligus. Jumlah tersebut dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan harian masyarakat, baik untuk kendaraan pribadi, transportasi sungai, maupun operasional usaha kecil.

Rudy Andreas juga menyoroti persoalan distribusi yang dinilai belum merata. Ia menekankan pentingnya keadilan dalam penyaluran, terutama bagi SPBU yang tidak memiliki armada angkut sendiri agar tidak terjadi ketimpangan pasokan.

Di sisi lain, Bisma Abdillah menjelaskan bahwa hambatan utama distribusi adalah pendangkalan sungai akibat kemarau panjang. Kapal tugboat pengangkut BBM saat ini hanya mampu mencapai Sanggau dan tidak dapat melanjutkan perjalanan hingga ke Sintang.

BACA JUGA:Anak Sintang dan Ketapang Ukir Prestasi di Mega Wedding Expo Singapore 2026

“Kondisi sungai memang menjadi kendala utama. Kapal hanya bisa sampai Sanggau. Untuk ke Sintang tidak memungkinkan karena debit air turun,” jelasnya.

Sebagai langkah darurat, pihaknya menambah suplai dari Pontianak menggunakan mobil tangki serta merencanakan pengiriman 16 kiloliter Pertalite ke Serawai dan Ambalau dalam waktu dekat. Meski demikian, tantangan distribusi di wilayah hulu tetap besar karena ketergantungan pada jalur sungai dan keterbatasan infrastruktur.

Sumber: