Selasa 17-02-2026,18:52 WIB
Reporter:
Tim Redaksi|
Editor:
Tim Redaksi
PONTIANAKINFO.COM, KUBU RAYA - Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di kawasan Tugu Benteng Mangrove Bundaran Gaforaya, Sungai Raya, berlangsung meriah, Senin (16/2/2026) malam. Pertunjukan barongsai, naga, hingga pesta kembang api menyemarakkan malam di areal ruang publik yang baru diresmikan pada akhir Desember 2025 lalu. Lebih dari itu, perayaan memberikan makna tersendiri karena sarat dengan pesan kebersamaan.
Bupati Kubu Raya Sujiwo menegaskan Bundaran Gaforaya merupakan ruang publik milik bersama yang dapat dimanfaatkan seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang. Perayaan malam Imlek sendiri dihadiri berbagai elemen masyarakat yang menegaskan semangat persatuan di tengah keberagaman.
“Bundaran Gaforaya atau Tugu Benteng Mangrove ini adalah miliknya publik. Miliknya masyarakat umum. Semua boleh menggunakan Bundaran Gaforaya, termasuk pada malam hari ini sahabat-saudara kita warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek,” ujar Sujiwo.
Menurut Sujiwo, momentum Imlek yang berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadan menjadi simbol kuat kolaborasi antarumat beragama.
“Perbedaan dan keberagaman itu harus menjadi potensi kekuatan untuk membangun bangsa ini. Bangsa ini sudah sangat lama hidup harmonis dan rukun,” katanya.
Ia menegaskan dalam kondisi apa pun, masyarakat tidak boleh terpecah belah. Karena persatuan merupakan modal utama pembangunan bangsa.
“Sebanyak apa pun anggaran suatu negara, ketika rakyatnya tidak bersatu, maka anggaran itu tidak akan bermanfaat secara maksimal,” tutur Sujiwo.
Senada, Wakil Bupati Sukiryanto yang hadir bersama Bupati Sujiwo mengajak masyarakat terus menjaga kebersamaan dan persatuan di tengah keberagaman. Dirinya mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek kepada warga Tionghoa di Kabupaten Kubu Raya. Ia berharap momentum pergantian tahun membawa berkah, kesehatan, dan keberhasilan bagi masyarakat dalam menjalankan usaha dan kehidupan sehari-hari.
“Kami mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek ke-2577. Mudah-mudahan masyarakat selalu mendapat berkah, aman, sehat, dan sukses dalam usahanya,” ucap Sukiryanto.
Sukiryanto menekankan Kubu Raya merupakan daerah yang dihuni beragam etnis yang hidup berdampingan dalam semangat persatuan. Dia menyebut sedikitnya terdapat 17 etnis yang tergabung dalam Paguyuban Merah Putih di tingkat kabupaten, sementara di Kalimantan Barat secara umum terdapat sekitar 24 etnis. Menurut dia, keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan sosial yang harus terus dijaga.
“Tidak ada suku atau etnis yang lebih baik dari yang lain. Semua suku itu baik. Kalau pun ada kekurangan, itu hanya oknum dan hal yang wajar sebagai manusia,” katanya.
Ia juga berharap perayaan Imlek di Bundaran Gaforaya menjadi agenda tahunan yang memperkuat kebersamaan masyarakat. Infrastruktur kawasan tersebut, lanjutnya, dibangun menjadi kebanggaan bersama warga Kubu Raya.
“Momentum seperti ini harus terus kita jaga sebagai ruang kebersamaan. Kawasan ini adalah kebanggaan kita bersama, dibangun untuk dinikmati bersama oleh seluruh masyarakat,” pesan Sukiryanto.
Selain sebagai pusat kegiatan budaya, kawasan Bundaran Gaforaya juga mencerminkan kekayaan alam Kubu Raya, khususnya keberadaan mangrove khas yang menjadi identitas daerah.
“Ini semakin menegaskan pentingnya menjaga harmoni antara keberagaman budaya dan lingkungan,” pungkas Sukiryanto. (jek)