Indonesia Economic Forum Luncurkan ION untuk UMKM Digital Inklusif
--
Jakarta — Ajang tahunan Indonesia Economic Forum (IEF) ke-12 resmi dibuka di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta, Kamis (5/1/2026). Ditandai dengan peluncuran simbolis Indonesia Open Network (ION), sebuah infrastruktur digital terbuka yang dirancang untuk memperluas akses pasar, menurunkan biaya transaksi, dan memperkuat daya saing UMKM Indonesia dalam ekonomi digital.
Mengusung tema “Digital Archipelago: Building Inclusive Digital Commerce in Indonesia”, forum ini mempertemukan pemimpin pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional dari Indonesia dan India untuk membahas masa depan ekonomi digital berbasis interoperabilitas, inklusi, dan kepercayaan.
Pembukaan IEF 2026: Dari Platform ke Jaringan Terbuka
Forum diawali dengan sambutan Sachin V. Gopalan, CEO & Founder Indonesia Economic Forum, yang menegaskan bahwa tantangan Indonesia kini bukan lagi sekadar konektivitas fisik, tetapi konektivitas digital yang benar-benar inklusif. “Digital infrastruktur hari ini bukan hanya soal kecepatan atau skala, tetapi tentang inklusi, interoperabilitas, dan kepercayaan. ION bukan platform tunggal, tetapi jaringan dari jaringan,” ujar Sachin.
Pidato pengantar kemudian berlangsung sebagai dialog visi lintas sektor. Dr. Ilham A. Habibie, Ketua PII (Persatuan Insinyur Indonesia) menekankan bahwa Indonesia membutuhkan ekosistem teknik dan kebijakan yang selaras agar inovasi digital benar-benar berdampak pada industri nasional.
Sejalan dengan itu, Suresh Sethi, Managing Director & CEO Protean (India) menyoroti pentingnya standar terbuka dan interoperabilitas dalam mempercepat adopsi ekonomi digital, seraya menyebut bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk melompat lebih jauh dengan belajar dari pengalaman India.
Dari sisi infrastruktur digital, Siddharth Prakash, Head of Product Strategy Emerging Markets, Google Cloud, menekankan bahwa jaringan terbuka seperti ION akan mempercepat adopsi teknologi berbasis data dan AI bagi UMKM, bukan hanya perusahaan besar.
Sementara itu, Vikram Sinha, CEO Indosat, menegaskan bahwa konektivitas yang merata menjadi prasyarat utama agar manfaat ION dapat dirasakan hingga daerah terpencil di seluruh Nusantara.
ION sebagai Fondasi Ekonomi Digital Indonesia
Dalam keynote speech, Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, menegaskan bahwa ION bukan sekadar inisiatif teknologi, melainkan strategi nasional untuk pemerataan ekonomi digital.
“ION bukan super-app baru. Ini adalah jaringan terbuka dan terdesentralisasi yang menghubungkan pembeli, penjual, dan penyedia logistik melalui standar interoperabel. Tujuannya jelas: lebih banyak pilihan, lebih banyak visibilitas, dan lebih banyak kendali bagi UMKM,” ujar Nezar.
Ia menambahkan bahwa ION akan terintegrasi dengan program Garuda Spark untuk mendorong lahirnya 2 juta technopreneur Indonesia.
ION Menjawab Ketimpangan Digital
Maman Abdurahman, Menteri UMKM RI, menempatkan ION sebagai terobosan penting bagi sektor UMKM. “Indonesia memiliki 64,2 juta UMKM yang menyumbang lebih dari 60 persen PDB dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Namun, banyak yang masih terjebak dalam ekosistem tertutup dengan biaya tinggi. ION dirancang untuk membuka akses yang lebih adil,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ION akan diukur dari seberapa banyak pedagang kecil, warung, dan usaha mikro yang benar-benar terhubung ke pasar digital nasional.
Infrastruktur Terbuka Menjadi Kunci Skalabilitas UMKM
Dalam sesi presentasi ION, Shinta Kamdani, Ketua APINDO, menegaskan bahwa kesiapan UMKM harus dibarengi infrastruktur yang tepat.
“Kesiapan UMKM adalah modal awal, tetapi skalabilitas hanya bisa tercapai melalui infrastruktur digital terbuka seperti ION. Tanpa itu, digitalisasi tidak akan benar-benar menghasilkan pertumbuhan yang inklusif,” jelasnya.
Indonesia Bisa Jadi Negara Tercepat Mengadopsi Jaringan Terbuka
Sumber:


