Kehidupan Petani di Sekitar Pontianak dan Tantangan Modernisasi
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan bersama para petani di lahan sawah--dokumen istimewa
PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Kehidupan petani di kawasan sekitar Pontianak mencerminkan peran penting sektor pertanian dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Kalimantan Barat. Meskipun modernisasi menawarkan peluang untuk memperbaiki produktivitas, petani tradisional menghadapi berbagai tantangan mulai dari perubahan iklim, modernisasi sistem produksi, hingga regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian yang kini semakin rumit.
BACA JUGA:Kehidupan Petani di Sekitar Pontianak dan Tantangan Modernisasi
Hidup Petani Tradisional di Kalimantan Barat
Sektor pertanian di Kalbar masih domikan oleh petani kecil dan pertanian skala keluarga yang mengelola sawah padi, jagung, serta komoditas lain sebagai sumber penghidupan. Wilayah pertanian termasuk di daerah seperti Landak, Sanggau, dan sekitar kota Pontianak merupakan lumbung pangan lokal yang memasok kebutuhan pangan masyarakat Kalimantan Barat. Pemerintah daerah dan pusat terus mendorong sektor ini melalui berbagai program bantuan alat pertanian dan pengembangan sistem tanam modern. Misalnya, di Kabupaten Landak, pemerintah mengajak petani untuk menerapkan modernisasi sistem pertanian lewat penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta teknik pengolahan lahan yang lebih efisien agar hasil produksi meningkat.
Modernisasi tersebut dapat membantu meningkatkan perekonomian petani sekaligus mendukung swasembada pangan, sejalan dengan upaya nasional untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah dan nasional. Gubernur Kalimantan Barat juga menyampaikan harapan agar kesejahteraan petani terus meningkat, terutama setelah suksesnya panen raya jagung yang melibatkan banyak petani di kabupaten yang berbasis pertanian.
BACA JUGA:Wali Kota Pontianak Ajak Masyarakat Sukseskan Survei BPS 2026
Tantangan yang Dihadapi: Iklim, Teknis, dan Sumber Daya
Salah satu tantangan utama yang dihadapi petani di Kalbar adalah perkembangan iklim dan cuaca ekstrem. Variasi curah hujan, banjir hingga musim kemarau yang berkepanjangan dapat memengaruhi masa tanam dan hasil panen secara signifikan. Perubahan iklim tersebut merupakan hambatan utama yang harus dihadapi para petani, terutama ketika perlu menyesuaikan jadwal tanam atau bergantung pada sistem irigasi yang belum sepenuhnya optimal.
Selain itu, laporan statistik menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Kalimantan Barat masih mengandalkan metode tradisional, dengan kurangnya adopsi teknologi modern dan mekanisasi pertanian. Tingkat adopsi teknologi baru hanya sekitar 20 persen, sehingga produktivitas masih tertinggal dibandingkan dengan sektor pertanian yang lebih modern. Regenerasi tenaga kerja menjadi tantangan besar karena banyak generasi muda yang lebih tertarik pada pekerjaan di sektor jasa dan industri, sehingga menyebabkan usia petani menjadi lebih tua di banyak komunitas tani.
BACA JUGA:6 Tempat Makan Legendaris Pontianak Favorit Warga Lokal dan Wisatawan
Dampak Konversi Lahan dan Tekanan Industri Perkebunan
Tekanan modernisasi juga datang dari konversi lahan pertanian ke kawasan perkebunan skala besar, terutama untuk komoditas sawit. Sebagian besar lahan produktif yang dulu digunakan untuk padi dan tanaman pangan kini berubah fungsi menjadi perkebunan besar, yang meskipun memberikan pendapatan besar bagi sektor korporasi, seringkali mengurangi lahan produktif bagi petani lokal. Hal ini berdampak pada akses petani terhadap lahan dan peluang produksi pangan lokal, sekaligus menambah ketergantungan terhadap komoditas ekspor.
Sumber:



