Jejak Tradisi Tepi Sungai Kapuas yang Perlahan Memudar di Pontianak
Masyarakat Kota Pontianak saat jalan dan santai sore di tepian Sungai Kapuas-Pontianak Disway-dokumen istimewa
PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Sungai Kapuas merupakan nadi kehidupan masyarakat yang tinggal di tepian sungai sejak puluhan generasi. Dari rutinitas keseharian hingga tradisi budaya yang lekat dengan lingkungan sungai, kehidupan di sepanjang Kapuas telah menghasilkan banyak tradisi unik. Namun seiring modernisasi dan perubahan gaya hidup, sejumlah tradisi kini mulai jarang ditemui dan perlu dilestarikan agar tidak hilang ditelan waktu.
BACA JUGA:Jejak Tradisi Tepi Sungai Kapuas yang Perlahan Memudar di Pontianak
Meriam Karbit: Suara Perayaan yang Kian Langka
Salah satu tradisi yang dulu mengisi kehidupan masyarakat tepi Sungai Kapuas adalah tradisi meriam karbit sebagai bagian dari perayaan Ramadan dan malam takbiran. Tradisi ini melibatkan pembuatan meriam dari batang kayu besar yang dilengkapi bahan bakar karbit untuk menghasilkan suara dentuman yang menggelegar di sekitar sungai setiap malam takbiran.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, tradisi meriam karbit merupakan bagian dari warisan budaya tak benda yang sudah ditetapkan oleh pihak berwenang sebagai tradisi lokal sejak beberapa tahun lalu. Namun, kelompok peserta yang terlibat dalam aktivitas ini semakin berkurang setiap tahunnya, terutama karena biaya pembuatan yang tinggi dan kesulitan mendapatkan bahan bakar karbit.
Meski tidak lagi seintens dulu, upaya ekshibisi meriam karbit tetap dilakukan sebagai cara untuk menjaga tradisi agar tetap hidup dan dikenalkan kepada generasi muda. Para penyelenggara bahkan mempertimbangkan pembentukan program pendampingan dan dukungan finansial agar tradisi ini tetap lestari.
BACA JUGA:RSUD SSMA Pontianak Ungkap Bahaya Tunda Penanganan Stroke
Ritualitas Hari Bakcang: Tradisi yang Masih Bersemi namun Berubah
Masyarakat Tionghoa di Pontianak memiliki tradisi budaya yang terkait erat dengan Sungai Kapuas, yaitu perayaan Hari Bakcang atau Peh Cun. Dalam tradisi ini, warga biasanya melempar bakcang ke sungai dan mandi di aliran air pada tengah hari sebagai bagian dari ritual.
Tradisi ini merupakan warisan budaya Tionghoa yang dipelihara di Pontianak dan meskipun masih berlangsung hingga kini, frekuensi pelaksanaannya cenderung menurun dibandingkan masa lalu, terutama karena perubahan gaya hidup dan kesibukan generasi muda.
Perayaan ini sering disambut oleh masyarakat luas dan turut menarik minat wisatawan, sehingga menjadi contoh bagaimana tradisi lokal tepi sungai tetap relevan sekaligus menjadi daya tarik budaya bagi kota.
BACA JUGA:Pemkot Pontianak Siaga Karhutla
Sumber:





