RSUD Sekadau
Pesan artikel
Backlink iklan

Pemulihan Pasca Stroke, RSUD SSMA Pontianak Tekankan Pentingnya Mobilisasi Mandiri

Pemulihan Pasca Stroke, RSUD SSMA Pontianak Tekankan Pentingnya Mobilisasi Mandiri

Edukasi pasien pasca stroke di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianakj-Pontianak Disway-dokumen istimewa

PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK – Pemulihan pasien pasca stroke memerlukan penanganan yang berkelanjutan, tidak hanya saat berada di ruang perawatan, tetapi juga ketika sudah kembali ke rumah. Menyadari pentingnya hal tersebut, RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak menggelar sesi edukasi khusus bagi para penyintas stroke pada Selasa, 20 Januari 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali pasien dan keluarga dengan pengetahuan praktis mengenai mobilisasi mandiri. Langkah ini dinilai krusial untuk meningkatkan kualitas hidup pasien serta mempercepat proses pemulihan saraf motorik dan sensorik yang terdampak serangan stroke.

BACA JUGA:Edukasi Pasien Pasca Stroke di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie: Kunci Mandiri dan Cegah Komplikasi

Pentingnya Mobilisasi Mandiri di Rumah

Stroke seringkali meninggalkan gejala sisa yang menghambat aktivitas sehari-hari, tanpa stimulasi yang tepat, pasien berisiko mengalami penurunan fungsi tubuh yang lebih berat. Dalam sesi edukasi di RSUD SSMA, para ahli fisioterapi menekankan bahwa gerakan yang dilakukan secara konsisten di rumah adalah faktor penentu kesembuhan.

"Tadi kita mengedukasi pasien-pasien pasca stroke. Jadi para penyintas stroke ini kita berikan tambahan informasi bagaimana mereka bisa melakukan mobilisasi secara mandiri di rumah, sehingga bisa bergerak dengan nyaman karena itu adalah kunci kesembuhan dari para pasien-pasien stroke sehingga kualitas hidupnya meningkat," jelas Deni Dwi Yulianti selaku Fisioterapis di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie.

BACA JUGA:RSUD SSMA Pontianak Ungkap Bahaya Tunda Penanganan Stroke

Mencegah Komplikasi dan Gejala Sisa

Salah satu tantangan terbesar bagi penyintas stroke adalah menghadapi komplikasi fisik dan kognitif. Masalah seperti kekakuan otot (spastisitas) hingga gangguan keseimbangan sering kali membuat pasien merasa frustrasi atau takut untuk bergerak karena risiko jatuh yang tinggi.

Deni Dwi Yulianti memaparkan bahwa intervensi dini melalui latihan yang menyenangkan sangat diperlukan untuk mengejar ketertinggalan fungsi tubuh tersebut.

"Iya, jadi pasien-pasien stroke ini kan selalu meninggalkan gejala sisa, sehingga itu yang kita kejar terlebih dahulu supaya mencegah komplikasi yang lebih lanjut ya. Seperti misalnya kelemahan, kekakuan, kemudian juga adanya spastisitas, kemudian gangguan keseimbangan dan koordinasi yang membuat mereka lebih mudah jatuh, kemudian juga ada gangguan kognitif ya, yang biasanya pasien-pasien stroke mengalami gangguan ingatan. Nah, itu juga akan kita kejar terlebih dahulu dengan melakukan stimulasi-stimulasi sensoris dan motoris yang mem- yang membuat mereka merasa gerakan-gerakan yang mereka lakukan ini cukup menjadi hiburan juga buat mereka, sehingga bukan latihan yang monoton namun bisa juga dengan permainan-permainan," katanya.

BACA JUGA:Edukasi RSUD SSMA Pontianak: Sariawan Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius

Panduan Latihan Bertahap bagi Pasien

Bagi keluarga yang merawat pasien stroke di rumah, Deni memberikan panduan sistematis mengenai tahapan latihan. Proses ini harus dilakukan secara perlahan dan repetitif untuk merangsang perbaikan pada sistem saraf pusat.

Latihan dimulai dari hal yang paling mendasar di atas tempat tidur sebelum berlanjut ke aktivitas berdiri dan berjalan.

Sumber: