RSUD Sekadau
Pesan artikel
Backlink iklan

Peran Kesultanan Pontianak dalam Membentuk Sejarah dan Identitas Kota

Peran Kesultanan Pontianak dalam Membentuk Sejarah dan Identitas Kota

Istana Kadriyah Pontianak, salah satu ikon kesultanan Pontianak--dokumen istimewa

PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Sejarah Kota Pontianak tidak dapat dipisahkan dari peran penting Kesultanan Pontianak dalam pembentukan dan transformasi wilayah ini menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, serta budaya di Kalimantan Barat. Berdiri sejak abad ke-18, Kesultanan Pontianak menjadi fondasi awal yang menentukan arah perkembangan sosial, ekonomi, dan politik kota yang kini dikenal sebagai ibu kota provinsi Kalimantan Barat.

BACA JUGA:Peran Kesultanan Pontianak dalam Membentuk Sejarah dan Identitas Kota

Kesultanan Pontianak: Lahirnya Sebuah Kota

Pontianak sendiri didirikan pada 23 Oktober 1771 Masehi oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang pemimpin keturunan ulama dan bangsawan yang bertujuan mendirikan pusat pemerintahan dan komunitas Muslim di pesisir Kalimantan Barat. Pada hari tersebut, Syarif Abdurrahman membuka hutan di persimpangan tiga sungai: Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak, yang kemudian menjadi titik awal berdirinya sebuah pemukiman baru yang dinamai Pontianak oleh sang pendiri.

Tahun 1192 Hijriah kemudian menandai penobatan Syarif Abdurrahman sebagai Sultan Pontianak yang pertama, sekaligus menegaskan keberadaan Kesultanan Pontianak sebagai entitas pemerintahan dan pusat kegiatan sosial-keagamaan di kawasan tersebut.

BACA JUGA:Tradisi Pernikahan Adat Melayu Pontianak dan Nilai Budayanya

Pusat Pemerintahan dan Kehidupan Sosial

Sebagai pusat pemerintahan tradisional, Kesultanan Pontianak membangun struktur sosial yang menjadi cikal bakal organisasi kota. Istana Kadriyah dan Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman menjadi dua simbol fisik utama dari kekuasaan dan peran religius Kesultanan Pontianak di masa itu. Bangunan-bangunan ini tidak hanya menjadi tempat tinggal dan pusat upacara kerajaan, tetapi juga fungsi sosial yang mempersatukan komunitas masyarakat Pontianak.

Lokasi Kesultanan yang berada di tepi Sungai Kapuas juga memiliki arti strategis. Sungai ini menjadi jalur perdagangan utama yang menghubungkan Pontianak dengan berbagai daerah lain di Nusantara. Posisi tersebut membantu Kesultanan Pontianak berkembang sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan yang penting, menarik pedagang dari berbagai kalangan termasuk Melayu, Tionghoa, dan suku Dayak yang saling berinteraksi dalam kegiatan ekonomi.

BACA JUGA:Kebiasaan Masyarakat Pontianak dalam Menghadapi Musim Hujan

Diplomasi dan Hubungan Kolonial

Peran Kesultanan Pontianak juga tampak dalam hubungan diplomatik dengan kekuatan asing, khususnya Belanda. Pada 5 Juli 1779, Sultan Pontianak melakukan perjanjian dengan pihak VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang membuka peluang bagi Belanda untuk mendirikan pusat pemerintahan kolonial di kawasan yang dikenal dengan nama “Tanah Seribu” atau Verkendepaal. Meski perjanjian ini kemudian meningkatkan pengaruh kolonial, langkah tersebut mencerminkan peran strategis Kesultanan Pontianak dalam menghadapi dinamika geopolitik di era tersebut.

Interaksi dengan Belanda menghasilkan transformasi tata pemerintahan setempat hingga era kolonial. Meskipun kekuasaan politik Kesultanan secara bertahap berkurang di bawah dominasi kekuatan kolonial, peran awalnya tetap krusial dalam pembentukan sistem administrasi yang kemudian menjadi dasar bagi struktur pemerintahan modern di Pontianak.

Sumber: