Kebiasaan Masyarakat Pontianak dalam Menghadapi Musim Hujan
Ilustrasi gambar berita-Pontianak Disway-dokumen istimewa
PONTIANAKINFO.COM, PONTIANAK - Musim hujan merupakan salah satu fase iklim penting yang selalu diantisipasi oleh masyarakat Kota Pontianak. Karena karakter geografisnya yang berada di dataran rendah dan dipengaruhi oleh pasang surut Sungai Kapuas, masyarakat setempat telah mengembangkan berbagai kebiasaan yang adaptif untuk menghadapi curah hujan yang kerap tinggi serta potensi dampak seperti genangan dan banjir. Tidak hanya menyesuaikan perilaku harian, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan di tingkat komunitas.
BACA JUGA:Kebiasaan Masyarakat Pontianak dalam Menghadapi Musim Hujan
Peringatan Dini dan Siaga Cuaca
Saat memasuki musim hujan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Supadio Pontianak selalu mengumumkan peningkatan intensitas curah hujan di wilayah Kalimantan Barat, termasuk Pontianak. Masyarakat biasanya diminta waspada terhadap potensi hujan deras yang bisa mengakibatkan banjir dan tanah longsor, serta diimbau untuk melakukan antisipasi dini terhadap kondisi cuaca ekstrem. Imbauan kewaspadaan ini bertujuan mengurangi risiko kerusakan dan korban jiwa akibat perubahan cuaca yang cepat dan intensitas curah hujan tinggi.
Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar juga rutin memperbarui informasi cuaca dan mengimbau warga agar tetap siaga terhadap hujan deras disertai angin kencang. Hal ini terutama penting di wilayah yang rawan peristiwa bencana hidrometeorologi, serta di kawasan dekat Sungai Kapuas yang rentan terhadap genangan air saat intensitas hujan meningkat.
BACA JUGA:Wisata Edukasi di Pontianak, Cocok untuk Pelajar dan Liburan Keluarga
Kebiasaan Warga Menjaga Lingkungan dan Rumah
Menghadapi curah hujan, masyarakat Pontianak memiliki kebiasaan aktif membersihkan lingkungan rumah dan drainase kecil di sekitar pemukiman. Parit-parit yang menjadi jalur utama aliran air hujan menjadi fokus utama kegiatan kebersihan komunitas. Selama musim hujan, warga sering melakukan kerja bakti untuk membersihkan selokan dari sampah dan sedimen tanah agar aliran air tetap lancar dan mengurangi risiko genangan di sekitar permukiman.
Selain itu, orang tua di lingkungan keluarga biasanya lebih memperhatikan kebersihan rumah terutama lantai dan area yang mudah tergenang air. Ini menjadi bagian dari kebiasaan rutin menjelang musim hujan untuk mencegah masuknya air ke dalam rumah serta menjaga kesehatan keluarga dari risiko penyakit yang sering muncul setelah banjir, seperti gangguan pencernaan dan penyakit kulit.
BACA JUGA:Perkembangan UMKM di Pontianak dan Perannya bagi Ekonomi Daerah
Adaptasi dalam Aktivitas Sehari-hari
Musim hujan yang intens membuat masyarakat Pontianak menyesuaikan rutinitas harian mereka. Para pengendara sepeda motor dan pejalan kaki umumnya sudah terbiasa membawa perlengkapan hujan seperti jas hujan atau payung saat beraktivitas di luar rumah. Kebiasaan ini penting untuk mencegah gangguan kesehatan akibat basah saat hujan turun secara tiba-tiba, serta menjaga kenyamanan perjalanan di tengah kondisi jalan yang licin.
Bagi pedagang kaki lima dan pelaku usaha kecil di daerah pinggir jalan, mereka biasanya menyiapkan terpal atau penutup tambahan di stan mereka untuk melindungi barang dagangan dari guyuran hujan deras. Penyesuaian ini menjadi bagian dari strategi adaptif agar usaha tetap berjalan meskipun curah hujan tinggi.
Sumber:





