Peran Masjid Bersejarah dalam Perkembangan Islam di Kalimantan Barat
Ilustrasi gambar berita-Pontianak Disway-dokumen istimewa
PONTIANAKINFO.COM - Masjid-masjid bersejarah di Kalimantan Barat merupakan saksi perjalanan panjang penyebaran dan perkembangan Islam di wilayah ini. Keberadaan masjid-masjid historis seperti Masjid Jami’ Pontianak, Masjid Jami’ Sintang, Masjid Jamiatul Khair Mempawah, dan Masjid Agung Jami’ Sambas mencerminkan peran strategis lembaga keagamaan dalam memperkuat identitas Muslim, pendidikan Islam, serta hubungan sosial masyarakat Kalbar dari masa ke masa.
Jejak Sejarah Masjid Tua di Kalimantan Barat
Masjid Jami’ Pontianak, dikenal pula sebagai Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, menjadi salah satu masjid tertua di Pontianak. Dibangun sejak awal berdirinya Kesultanan Pontianak pada 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah utama tetapi juga pusat kegiatan sosial dan spiritual masyarakat. Lokasinya di tepi Sungai Kapuas, jalur perdagangan utama kala itu, menjadikan masjid ini strategis sebagai pusat dakwah dan pertemuan komunitas Muslim di kota tersebut.
Selain Pontianak, Kabupaten Sintang memiliki Masjid Jami’ Sultan Nata yang berdiri sejak 1672 dalam kompleks Istana al-Mukarrammah. Masjid ini menjadi bukti awal kuatnya pengaruh Islam dalam struktur pemerintahan Kesultanan Sintang, terutama setelah Islam diangkat sebagai agama resmi kerajaan. Perubahan peran masjid dari tempat ibadah sederhana menjadi pusat kegiatan keagamaan resmi memperlihatkan bagaimana Islam mengakar di tengah pemerintahan dan masyarakat lokal.
BACA JUGA:Peran Masjid Bersejarah dalam Perkembangan Islam di Kalimantan Barat
Tak kalah penting adalah Masjid Jamiatul Khair di Mempawah, salah satu bangunan cagar budaya Kalbar. Dibangun pada 1906, masjid ini menunjukkan bagaimana arsitektur tradisional Nusantara menjadi bagian dari identitas Islam lokal. Keberadaan masjid di kawasan Istana Amantubillah merupakan simbol keagungan dan kekukuhan komunitas Muslim di Mempawah sejak era kolonial.
Di Kabupaten Sambas, Masjid Agung Jami’ Sulthan Muhammad Shafiuddin merupakan saksi sejarah penting perkembangan Islam. Masjid ini bukan sekadar tempat salat, tetapi juga pusat pendidikan agama Islam, dakwah, dan aktivitas sosial pada masa Kesultanan Sambas, yang berkontribusi memperkuat identitas keislaman masyarakat setempat. Lokasinya yang mudah diakses melalui jalur air memperkuat fungsi masjid sebagai ruang pertemuan dan penyebaran ajaran Islam di berbagai daerah sepanjang sungai.
BACA JUGA:Makanan Khas Melayu Pontianak yang Tetap Populer Hingga Kini
Peran Sosial, Pendidikan, dan Keagamaan
Masjid bersejarah di Kalbar memainkan peran multifungsi dalam kehidupan masyarakat Muslim. Selain menyediakan ruang ibadah, masjid-masjid ini menjadi pusat pembelajaran agama Islam melalui pengajian, tafsir Al-Qur’an, dan pendidikan moral yang diikuti oleh generasi muda. Fungsi ini sejalan dengan peran masjid sebagai pusat dakwah dan pembentukan komunitas Muslim yang kuat, sebagaimana kajian studi Islam menegaskan bahwa masjid berfungsi sebagai pusat pendidikan, kegiatan sosial, dan peningkatan spiritual umat.
Peran sosial masjid juga terlihat dalam tradisi masyarakat yang menjadikan masjid sebagai tempat musyawarah dan solidaritas saat menghadapi berbagai tantangan sosial maupun kebudayaan. Hal ini menunjukkan bahwa masjid bersejarah merupakan jantung kehidupan komunitas Muslim di Kalbar.
BACA JUGA:6 Rekomendasi Coffee Shop Modern di Pontianak untuk Anak Muda dan Keluarga
Arsitektur sebagai Cerminan Integrasi Budaya
Masjid-masjid bersejarah di Kalbar juga memperlihatkan integrasi seni arsitektur lokal dengan nilai Islam. Bentuk atap bertingkat, penggunaan material lokal seperti kayu belian, dan ornamen tradisional menjadi cerminan bagaimana masyarakat lokal mengadaptasi Islam ke dalam konteks budaya mereka. Penelitian menunjukkan bahwa bentuk masjid tradisional di pesisir utara Kalbar merupakan wahana penyebaran Islam yang menyesuaikan tradisi lokal dan kebutuhan masyarakat pada masa awal kedatangan Islam.
Sumber:





