Pesan artikel

Mengenal Tradisi Makan Bersama dalam Budaya Masyarakat Kalimantan Barat

Mengenal Tradisi Makan Bersama dalam Budaya Masyarakat Kalimantan Barat

Salah satu sekolah di Pontianak mengikuti Festival Saprahan-Prokopim Pontianak-dokumen istimewa

PONTIANAKINFO.COM - Di tengah dinamika sosial yang terus berubah, tradisi makan bersama tetap menjadi salah satu pilar kuat budaya masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar). Tradisi ini merupakan sarana mempererat hubungan sosial, menegaskan nilai kesetaraan, serta melestarikan kearifan lokal antar generasi. 

BACA JUGA:Mengenal Tradisi Makan Bersama dalam Budaya Masyarakat Kalimantan Barat

Saprahan: Warisan Budaya Melayu yang Sarat Makna

Salah satu bentuk paling khas dari tradisi makan bersama di Kalbar adalah saprahan, yang berasal dari kata “saprah” — berhampar. Tradisi ini dilakukan dengan duduk lesehan secara berkelompok di atas kain saprah, lalu menyantap hidangan secara bersama. Tradisi ini umum di masyarakat Melayu Pontianak dan daerah lainnya, terutama saat acara pernikahan, khitanan, syukuran, dan perayaan adat lainnya. 

Hidangan dalam saprahan disusun rapi di atas kain berwarna khusus, dan semua yang hadir duduk berdekatan tanpa sekat di antara mereka. Nilai budaya yang terkandung di dalamnya mencakup kebersamaan, keramahtamahan, serta persaudaraan antar warga, sekaligus mencerminkan filosofi “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.” 

Pj Gubernur Kalimantan Barat sebelumnya juga pernah menegaskan pentingnya tradisi makan saprahan sebagai wujud kebersamaan tanpa sekat sosial. Ia menyatakan bahwa aktivitas ini memperlihatkan bagaimana masyarakat, dari berbagai lapisan, berkumpul dan berdiskusi secara santai sambil menikmati hidangan bersama. 

BACA JUGA:6 Rekomendasi Coffee Shop Modern di Pontianak untuk Anak Muda dan Keluarga

Peran Tradisi dalam Pendidikan Budaya dan Paresewaan Identitas Lokal

Pemerintah Kota Pontianak, bersama lembaga budaya dan pendidikan setempat, bahkan memperkenalkan tradisi ini kepada pelajar tingkat SMA/SMP melalui seminar dan festival saprahan. Tujuannya adalah memperkenalkan nilai-nilai etika budaya kepada generasi muda agar mereka menghargai identitas lokal dalam kehidupan sehari-hari. 

Selain itu, dalam literatur budaya Melayu di Kalimantan Barat, tradisi saprahan dipandang sebagai bagian dari sistem nilai yang terus diwariskan secara turun-temurun oleh komunitas masyarakat Sambas dan Pontianak. Ini memperkuat pemahaman bahwa tradisi makan bersama bukan hanya soal makanan, tetapi juga refleksi nilai-nilai sosial yang mendalam. 

BACA JUGA:Liburan Akhir Pekan di Pontianak, Ini Destinasi Favorit Wisata Keluarga

Makan Bersama dalam Momen Keagamaan dan Perayaan

Selain saprahan, tradisi makan bersama juga muncul dalam berbagai momen keagamaan. Misalnya, saat Lebaran atau Idul Fitri, tradisi makan ketupat secara bersama-sama dituangkan sebagai ajang silaturahmi keluarga dan tetangga, sekaligus simbol berbagi kebahagiaan setelah berpuasa. 

Begitu pula pada masa menyambut bulan Ramadan, masyarakat setempat sering mengadakan kegiatan makan bersama seperti penjamuan tradisional khas sebelum bulan suci. Tradisi kuliner seperti bubur pedas juga kerap disiapkan dalam jumlah besar untuk dinikmati bersama antara tetangga dan keluarga saat berbuka puasa, mencerminkan nilai gotong-royong dan generositas. 

Sumber: